Monday, May 24, 2010

Cloth diaper Babyland (Rp.80.000)


Paket 1pcs cloth diaper disertai 1pcs insert microfiber. Lapisan inner dari fleece yang lembut. Outer dilapisi bahan PUL yang waterproof.

Tuesday, October 28, 2008

TipTips-tips agar ibu bekerja dapat memberikan ASI eksklusif

TipTips-tips agar ibu bekerja dapat memberikan ASI eksklusif

1. Terpenting : Selama ibu di tempat kerja, Peraslah / pompalah ASI setiap 3-4 jam sekali secara teratur. Ini perlu dilakukan agar produksi ASI tetap terjaga. Karena ASI dibuat based on demand. Kalo tidak ada permintaan, ya tidak akan dibuat. Kalau permintaannya sedikit ya akan sedikit juga yang diproduksi nantinya. ASI tersebut bisa disimpan dalam botol dan dan disimpan dalam kulkas (jika di kantor ada kulkas). Atau ibu bisa menyimpannya dalam termos yang diberi es batu atau blue ice.
2. Yang tidak kalah pentingnya : ibu harus dalam keadaan RELAX. KONDISI PSIKOLOGIS ibu menyusui sangat menentukan keberhasilan ASI eksklusif. Menurut hasil penelitian,> 80% lebih kegagalan ibu menyusui dalam memberikan ASI eksklusif adalah faktor psikologis ibu menyusui. Saat ibu memeras ASI, jangan tegang dan jangan ditargetkan berapa banyak ASI yg harus keluar. Ingat : 1 pikiran “duh ASI peras saya cukup gak ya?” maka pada saat bersamaan ratusan sensor pada otak akan memerintahkan hormon oksitosin (produksi ASI) untuk bekerja lambat. Dan akhirnya produksi ASI menurun. Relaks saja ya bu. Buat suasana senyaman mungkin saat memeras ASI. Bawa foto anak jika perlu saat memeras ASI. Peran ayah juga disini sangat dibutuhkan. Jika ayah mendukung maka ASI akan lancar.
3. Saran dilakukan begitu sebelum kembali dari cuti : beritahu atasan ibu bahwa ibu menyusui dan ingin berhasil memberikan ASI eksklusif. Jelaskan juga bahwa pada jam tertentu ibu perlu waktu khusus untuk memeras ASI. Sehingga atasan ibu & lingkungan kerja dapat mendukung keberhasilan ASI eksklusif.
4. Begitu ibu kembali dari tempat kerja, susukan bayi langsung dari payudara. Hal ini diperlukan untuk menjaga refleks ASI & kerja hormon2 ASI, sehingga produksi ASI tetap terjaga. Jadi ASI peras yg ada bisa disimpan untuk hari-hari berikutnya.
5. Hindari pemberian susu formula. Begitu bayi diberikan susu formula, maka saat ia menyusu pada ibunya akan kekenyangan. Sehingga volume ASI makin berkurang.
6. Lakukan perawatan payudara : Massage / pemijatan payudara dan kompres air hangat & air dingin bergantian.
7. Jika ada masalah dalam ASI, jangan ragu untuk menghubungi atau konsultasi dg klinik laktasi. Selain mengikuti petunjuk2 di atas. Tapi sekali lagi, yg perlu diingat adalah ibu harus PEDE.


Written by : Luluk (dirangkum dari berbagai sumber)

Apakah kolostrum itu? Bagaimana caranya bisa bermanfaat untuk bayi saya?

Payudara Anda menghasilkan kolostrum dimulai selama masa kehamilan dan terus berlanjut sampai hari-hari awal menyusui. Susu istimewa ini berwarna kuning sampai oranye dan lengket serta tebal. Kandungan lemaknya rendah sedangkan karbohidrat, protein, dan antibodi tinggi untuk membantu menjaga anak Anda tetap sehat. Kolostrum sangatlah mudah dicerna sehingga merupakan makanan bayi yang sempurna. Jumlahnya sedikit (dapat diukur dalam beberapa sendok saja) namun kaya akan nutrisi yang terkonsentrasi di dalamnya untuk bayi baru lahir. Kolostrum memiliki efek pencahar pada bayi sehingga membantunya untuk mengeluarkan tinja awalnya, yang membantu pengeluaran bilirubin yang berlebih dan mencegah terjadinya kuning (jaundice).

Bila bayi Anda disusui sejak dini dan sering, maka payudara Anda akan mulai menghasilkan susu sekitar hari ketiga atau keempat setelah lahir. ASI Anda kemudian akan meningkat jumlahnya dan akan mulai tampak lebih encer dan lebih putih warnanya. Pada hari-hari perta sangatlah penting untuk menyusui bayi Anda paling sedikit 8-12 kali dalam 24 jam dan lebih sering lebih baik. Hal ini memungkinkan bayi Anda mendapatkan semua manfaat kolostrum dan juga merangsang produksi suplai susu yang banyak. Sering menyusui juga membantu mencegah payudara membengkak.

Kolostrum Anda tidak hanya menyediakan gizi sempurna yang sesuai dengan kebutuhan bayi Anda yang baru lahir, tetapi juga menyediakan sejumlah sel-sel hidup yang memberikan pertahanan pada bayi melawan agen-agen yang berbahaya. Kadar faktor kekebalan lebih tinggi pada kolostrum daripada susu.

Kolostrum biasanya bekerja sebagai vaksin alamiah dan 100% aman. Kolostrum mengandung antibodi dalam jumlah besar yang disebut imunoglobulin sekretorik A (IgA) yang merupakan zat baru pada bayi baru lahir. Sebelum bayi Anda lahir, ia mendapat antibodi lain yang disebut IgG melalui plasenta. IgG bekerja melalui sistem sirkulasi bayi sedangkan IgA melindungi bayi pada tempat-tempat yang cenderung diserang kuman, yaitu selaput lendir di tenggorokan, paru, dan usus.

Kolostrum mempunyai peranan yang sangat penting pada saluran cerna bayi. Usus bayi baru lahir sangat permeable (berlubang-lubang). Kolostrum menambal lubang-lubang tersebut dengan mengecat’ saluran cerna dengan suatu penghalang yang menghalangi zat-zat asing masuk dan yang mungkin mensensitisasi bayi terhadap makanan yang dimakan ibunya. Kolostrum juga mengandung kadar sel darah putih yang tinggi yang bersifat protektif menghancurkan bakteri dan virus penyebab penyakit.

Kolostrum secara bertahap berubah menjadi susu yang lebih matang selama 2 minggu pertama setelah lahir. Selama masa transisi ini, kadar antibodi dalam susu Anda akan berkurang, namun volumen susu Anda meningkat. Bahan-bahan pelawan penyakit pada ASI tidak menghilang bersama kolostrum. Selama bayi Anda memperoleh ASI, ia akan mendapatkan perlindungan kekebalan terhadap bakteri dan virus yang berbeda-beda.

Kapasitas lambung bayi baru lahir

Bila para ibu mendengar bahwa kolostrum dapat diukur dalam sendok teh dibandingkan ons, mereka seringkali mempertanyakan apakah benar-benar cukup untuk bayi mereka. Jawaban singkatnya adalah kolostrum merupakan satu-satunya makanan yang dibutuhkan oleh bayi cukup bulan yang sehat. Berikut adalah penjelasannya:

Kapasitas lambung bayi berusia 1 hari sekitar 5-7 ml atau kira-kira sebesar kelereng. Yang menarik, para peneliti telah menemukan bahwa lambung bayi baru lahir berusia 1 hari tidak meregang untuk dapat menampung lebih banyak. Karena dinding bayi baru lahir tetap kaku, susu ekstra seringkai dikeluarkan lagi (gumoh). Kolostrum merupakan jumlah yang tepat untuk makanan bayi pertama kali!

Pada hari ketiga, kapasitas lambung bayi baru lahir berkembang sampai sekitar 0,75-1 oz, atau kira-kira sebesar kelereng penembak’. Pemberian sedikit-sedikit namun sering memastikan bayi Anda mendapat semua susu yang ia butuhkan.

Sekitar hari ke-7, kapasitas lambung bayi baru lahir sekarang sekitar 1,5-2 oz, atau kira-kira sebesar bola pingpong. Pemberian yang sering dan kontinu akan memastikan bayi Anda mendapatkan semua susu yang ia butuhkan dan produksi susu Anda memenuhi tuntutannya.

Bagaimana Mencegah Puting Lecet?

Menyusui tidak semestinya sakit. Menyusui diharapkan menjadi suatu pengalaman yang menyenangkan dan dapat dinikmati oleh Anda dan bayi Anda.

Puting lecet paling sering disebabkan oleh posisi bayi yang tidak tepat pada payudara.

Berikut adalah langkah-langkah dasar yang akan membantu mencegah puting lecet :

1. Posisi diri Anda senyaman mungkin dengan bantuan sandaran punggung, bantal yang menyangga lengan dan bantal di pangkuan, serta sandaran kaki.
2. Posisi bayi dekat dengan Anda, dengan pinggulnya menekuk sehingga ia tidak harus menengokkan kepala untuk mencapai payudara Anda. Mulut dan hidungnya harus mengahadap puting. Jika mungkin, minta bantuan untuk memberikan bayi kepada Anda saat Anda sudah merasa nyaman untuk menyusui.
3. Sangga payudara Anda sehingga tidak menekan dagu bayi.
4. Lekatkan bayi pada payudara Anda. Dorong ia untuk membuka lebar mulutnya dengan menyentuhkan bibirnya dengan puting dan berkata, ayo, buka” Angkat ia agar lebih dekat dengan menyangga punggungnya (bukan belakang kepalanya) agar dagunya mengarah ke payudara Anda. Hidungnya akan menyentuh payudara Anda. Tangan Anda berfungsi sebagai leher kedua” bagi bayi Anda.
5. Nikmatilah! Jika Anda tidak merasa nyaman, ganti posisi bayi Anda.

Puting lecet dapat juga disebabkan oleh hal lain seperti:

Puting datar atau puting masuk: ibu dengan puting pada kategori ini dapat menyusui dengan sukses tanpa nyeri. Puting datar tidak menjadi tegak ketika dirangsang atau jika dingin. Puting masuk biasanya justru tertarik daripada menonjol keluar ketika daerah sekitar puting ditekan. Memakai breast shell selama kehamilam dapat membantu menarik keluar puting Anda. Saat bayi Anda sudah lahir, Anda dapat menggunakan pompa payudara untuk menarik puting Anda segera sebelum melekatkan bayi Anda ke payudara.

Bengkak: Payudara yang penuh dan keras dapat terjadi pada hari-hari awal menyusui. Hal ini dapat mengakibatkan puting datar yang akan mempersulit bayi untuk latch on. Untuk menhindari kondisi ini pastikan ASI Anda dikeluarkan secara teratur. Jika bayi Anda tidak disusui tiap 2 jam atau lebih, perahlah atau gunakan pompa untuk menghindari bengkak.

Memakai pompa payudara: sama seperti menyusui itu sendiri, menggunakan pompa seharusnya juga tidak sakit. Anda mungkin perlu mencoba-coba untuk menemukan pompa payudara yang nyaman untuk Anda. Pada umumnya, jika puting Anda terletak di tengah-tengah dinding pompa dan pemompaan dilakukan dengan lembut maka cedera dapat dihindari.

Melepaskan bayi dari payudara Anda: Lakukan perlahan dan selembut mungkin! Banyak ibu menyadari bahwa begitu anaknya sudah kenyang, ia akan melepaskan payudaranya. Jika bayi harus dilepaskan sebelum hal ini terjadi, cobalah memasukkan jari ke sudut mulut bayi, tarik ke bawah atau tekan payudara ke bawah di dekat mulut bayi untuk melepaskan perlekatan.

Penggunaan empeng atau botol: Jika bayi Anda mendapat empeng atau botol, suatu kondisi yang dinamakan bingung puting dapat terjadi. Hal ini dikarenakan teknik yang sangat berbeda yang digunakan bayi saat menyusu dibanding dengan mengisap puting buatan. Hal ini dapat menyebabkan bayi Anda menyusu dengan tidak tepat dan menyebabkan lecet.

Thrush: Jika bayi Anda sudah semakin bertambah usianya dan Anda tiba-tiba mengalami puting lecet atau nyeri payudara yang dalam, Anda mungkin terkena thrush (infeksi jamur).

Dengan belajar selama masa kehamilan Anda dapat meningkatkan pengalaman menyusui Anda. Jika bayi Anda sudah lahir, menentukan penyebab lecetnya puting Anda adalah langkah pertama dalam menyembuhkan puting Anda dan kemudian melanjutkan pengalaman menyusui bebas nyeri.

Sumber : http://www.llli.org/FAQ/sore.html

Mengenali Dehidrasi pada Bayi yang Mendapat ASI

Dari : NEW BEGINNINGS, Vol. 11 No. 6, November-Desember 1994, pp. 184-5

Dehidrasi paling sering terjadi pada bayi-bayi yang lahir dari ibu-ibu yang pertama kali melahirkan dan masih baru dalam memberikan ASI serta mengasuh anak. Tanda-tanda dehidrasi seringkali timbul saat pulang dari rumah sakit. Sebelumnya mungkin terdapat persalinan sulit atau pemberian obat-obatan untuk nyeri sebelum atau sesudah bayi dilahirkan. Hal ini dapat menyebabkan bayi menjadi kurang aktif atau mengantuk sehingga pemberian ASI menjadi tidak cukup. Seringkali, pemberian botol tambahan berisi air atau produk susu formula diberikan di rumah sakit alih-alih mengusahakan meningkatkan ketrampilan menyusui.

Salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan oleh ibu baru yang menyusui adalah bagaimana saya tahu bahwa bayi saya mendapatkan cukup ASI?”. Pertanyaan ini sebaiknya ditujukan pada staf rumah sakit yang memiliki informasi dan pengetahuan, memiliki kualifikasi untuk memberikan informasi terbaru dan akurat. Selain itu, staf tersebut harus memiliki kemauan untuk memberikan dukungan yang baik dalam menyusui dan informasi dalam jumlah yang sama dengan pamflet gratis yang diberikan oleh produsen susu formula saat pulang dari rumah sakit.

Ibu harus menyadari jumlah popok bayinya yang basah dan kotor: setelah hari pertama atau kedua, 6-8 popok basah (5-6 popok sekali pakai, meskipun bisa jadi sulit menentukan basahnya pada popok ini) dan 2-5 kali buang air besar setiap 24 jam berarti bayi cukup disusui. Apabila bayi usia 3 atau 4 hari tidak buang air, ibu harus segera mencari pertolongan pada seseorang yang memiliki pengetahuan tentang menyusui.

Ibu harus memperhatikan tingkat aktivitas bayi dan gejala-gejala yang mungkin: apakah ia mengisap dengan aktif? Apakah ia antusias ketika disusui? Apakah ia disusui 8-10 kali dalam 24 jam? Apakah ia menelan? Apakah ia tidur selama beberapa kali disusui? Apakah tingkat aktivitasnya menurun seiring waktu? Pemberian cairam dapat dinilai dengan melihat respons bayi secara umum dan warna kulit. Bayi yang dehidrasi akan tampak lemas dan sakit.

Penambahan berat badan bayi juga merupakan indikasi cukupnya pemberian ASI, meskipun tiap bayi bertambah beratnya sesuai dengan tingkatnya masing-masing dan dapat mencapai waktu sampai 3 minggu untuk bertambahnya kembali berat badan. Banyak profesi kesehatan yang menganjurkan bayi yang disusui dibawa ke dokter pada minggu pertama untuk meyakinkan segala sesuatu berjalan dengan baik. Pada pemeriksaan oleh dokter anak, letargi (lemas), kekeringan selaput lendir, dan kemungkinan malnutrisi terkait dengan dehdrasi akan segera dikenali. Derajat hidrasi (pemberian cairan) paling baik ditentukan dari banyaknya kehilangan berat badan.

Pada situasi tertentu, kegagalan bayi untuk tumbuh atau dehidrasi dapat disebabkan oleh ketidakmampuan ibu untuk menghasilkan ASI yang cukup. Bagian plasenta yang masih tertinggal dapat menunda diproduksinya ASI yang cukup. Operasi payudara sebelumnya, khususnya reduksi payudara mungkin menyebabkan kerusakan saraf yang penting atau jaringan kelenjar diangkat terlalu banyak. Mungkin adanya cacat lahir atau cedera payudara yang sedang berkembang tidak memungkinkan laktasi sepenuhnya.

Pada beberapa laporan kasus, berkurangnya laktasi menyebabkan peningkatan kadar natrium dalam ASI yang dapat menyebabkan dehidrasi pada bayi baru lahir. Kadar natrium yang berlebihan dapat juga terjadi ketika terdapat penundaan yang tidak biasa dalam pematangan kolostrum menjadi ASI. Kadar natrium dapat dinormalkan dengan konseling laktasi yang tepat, termasuk cara memompa di antara waktu-wakru pemberian ASI untuk meningkatkan suplai ASI lebih cepat.

Ibu dapat pula memperhatikan tanda-tanda payudaranya berfungsi dengan normal. Apakah payudaranya membesar secara signifikan selama kehamilan? Apakah ibu merasa susunya keluar beberapa hari setelah lahir? Apakah ia merasa haus? Apakah ia merasa adanya “let-down”? Apakah ia melihat adanya susu yang menetes-netes atau memancar dari payudaranya? Memompa atau memerah sedikit ASI dapat meredakan kekhawatiran ibu tentang apakah ia menghasilkan ASI atau tidak.

Kemungkinan yang perlu dicari adalah apakah bayi tidak mampu mengisap dengan benar. Seseorang yang memiliki pengetahuan tentang menyusui sebaiknya melihat posisi bayi pada payudara dan menentukan apakah latch-on dilakukan dengan benar atau tidak. Ibu dapat dibantu dalam menentukan keadaan bayi ketika mengisap dan dapat diajarkan bagaimana cara bekerja sama dengan bayinya untuk meningkatkan ketrampilan menyusui. Menyusui yang sukses merupakan suatu kemitraan.

Sumber : http://www.llli.org/NB/NBNovDec94p184sup.html

Konsultasi: Saran untuk Layanan Dokter di Indonesia

Oleh dr Samsuridjal Djauzi

Kasus:

"SAYA pernah bekerja di perusahaan asing dan ditempatkan di Malaysia, Singapura, dan Thailand. Jadi saya pernah merasakan layanan dokter di negara tersebut. Meski saya sekarang sudah pensiun, mungkin pengalaman saya berobat di berbagai negara dapat dibandingkan dengan layanan dokter di Indonesia.

Latar belakang pendidikan saya ekonomi, namun saya amat percaya bahwa dokter Indonesia tak kalah kemampuannya dengan dokter di negara tetangga kita. Mungkin ada perbedaan dalam penggunaan teknologi kedokteran. Rumah sakit di Singapura mungkin mempunyai peralatan lebih lengkap, tetapi Thailand dan Malaysia lebih kurang sama dengan kita.

Perbedaan yang dirasakan jika berobat di negara lain adalah perhatian dokter dan perawat kepada pasien. Perhatian tersebut ditunjukkan dalam bentuk datang pada waktunya. Jika kita membuat janji dengan dokter boleh dikatakan kita akan mendapat layanan sesuai janji.

Selain itu kita diberi kesempatan mengungkapkan keluhan secara rinci serta juga diberi penjelasan lengkap. Jika pasien yang dirawat memerlukan, dokter akan datang segera karena dokter tersebut bekerja penuh di rumah sakit tersebut. Atau jika dia tidak ada, ada dokter pengganti yang mempunyai keahlian serupa. Kita juga dapat bertanya mengenai lama akan dirawat dan perkiraan biaya rawat.

Kita juga dapat menelepon dokter yang kita perlukan baik untuk menyampaikan perkembangan penyakit maupun membuat janji konsultasi. Seorang dokter ahli atau konsultan akan membatasi jumlah pasiennya sehingga dapat memberi perhatian penuh sehingga tidak tergesa-gesa melayani pasien.

Di Indonesia sulit membedakan layanan dokter umum dengan dokter spesialis atau konsultan. Banyak dokter spesialis atau konsultan yang menerima pasien di atas 30 orang dan hanya menyediakan waktu 3 sampai 5 menit untuk pasiennya padahal tarifnya ya tarif dokter spesialis. Jika pasien hanya sakit ringan diterima juga tanpa dianjurkan ke dokter umum.

Dokter di Indonesia tidak dapat hanya menyalahkan pasien yang berobat ke luar negeri. Untuk dapat bersaing dengan sejawatnya dokter luar negeri, dokter Indonesia harus memperbaiki layanannya dan berorientasi pada kepentingan pasien.

Sebagai pasien saya ingin menyarankan agar dokter di Indonesia meningkatkan pelayanan. Untuk itu diperlukan beberapa langkah di antaranya: 1. Bekerja penuh di satu rumah sakit saja, jika terpaksa misalnya karena kekurangan tenaga dokter ahli boleh di dua rumah sakit, tetapi dengan izin kepala rumah sakitnya. Hubungan kerja dengan rumah sakit kedua tidak dilakukan secara pribadi, tetapi secara institusi dengan pengawasan rumah sakit pertama.

2. Menerapkan sistem rujukan. Dokter spesialis hanya menerima pasien rujukan, sedangkan pasien dengan penyakit ringan harus ke dokter umum. Jika dirasa perlu dirujuk baru dikirim ke dokter spesialis.

3. Pasien diberi waktu cukup untuk berkonsultasi dengan dokter misalnya dokter umum menyediakan waktu 10 menit dan dokter spesialis 15 menit. Dengan mengetahui haknya untuk berkonsultasi, maka pasien dapat leluasa memanfaatkan waktu tersebut untuk bertanya secara lebih rinci. Terutama jika menghadapi operasi atau terapi yang mungkin menimbulkan risiko.

4. Pasien yang dirawat di rumah sakit atau keluarganya setelah tiga hari perawatan sudah harus mendapat penjelasan lengkap tentang penyakitnya dan apa yang akan dilakukan selanjutnya. Sebaiknya dokter juga memanfaatkan tenaga apoteker untuk menjelaskan obat-obat yang harus digunakan pasien sehingga penggunaan obat dapat dilaksanakan tepat.

Saya tak tahu apakah usulan untuk dokter Indonesia ini terlalu berat. Saya rasa tidak karena tidak memerlukan alat canggih atau pendidikan tambahan. Hanya memerlukan kepedulian terhadap pasien. Maksud saya mengajukan usul ini adalah agar layanan kesehatan di negeri kita dapat maju dan bersaing dengan negara tetangga. Saya tak tahu bagaimana peran Ikatan Dokter Indonesia atau Departemen Kesehatan dalam pembinaan layanan dokter di Indonesia. Mudah-mudahan instansi terkait dapat mengatur layanan tersebut yang dapat meningkatkan kepercayaan dan kenyamanan pasien sehingga pasien tak perlu lagi berobat ke luar negeri."

(S di J)

Jawaban:

*
Terima kasih banyak atas usulan Anda dan juga atas kepedulian Anda pada pengembangan layanan dokter di Indonesia. Saya rasa usul Anda amat positif. Sikap seperti ini dapat mendorong agar layanan kedokteran di Indonesia semakin baik.

Saya teringat kepada guru-guru saya sewaktu saya baru menjadi mahasiswa fakultas kedokteran dulu. Seingat saya guru-guru tersebut amat memperhatikan mahasiswa dan mendidik dengan memberi contoh. Jika mereka bicara tentang etika kedokteran misalnya, perilaku mereka sehari-hari memang sesuai dengan apa yang mereka ajarkan.

Tanggung jawab mendidik dan merawat pasien di rumah sakit dilaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab. Bahkan seingat saya beberapa orang guru besar dan dokter senior memilih bekerja penuh di rumah sakit pemerintah meski gajinya kecil. Mereka menolak merangkap bekerja di rumah sakit swasta. Kalaupun mereka berpraktik sore hanya sekadarnya saja, 2 sampai 3 jam, dan itu pun kadang-kadang hanya tiga kali seminggu.

Sekarang keadaan memang sudah berubah. Kebutuhan hidup semakin meningkat. Dokter memerlukan pendapatan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sehingga sudah terbiasa dokter rumah sakit pemerintah merangkap juga bekerja di rumah sakit swasta bahkan di banyak rumah sakit swasta. Karena harus melayani banyak rumah sakit, maka dokter tak dapat memberi layanan yang diharapkan pasien. Usulan Anda dapat menjadi masukan yang baik meski belum tentu seluruhnya dapat dilaksanakan sesuai usulan Anda.

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sebagai wadah organisasi profesi dokter berkewajiban melakukan pembinaan dan pengawasan. Saya mengetahui keinginan meningkatkan layanan dokter di Indonesia telah lama menjadi topik bahasan di IDI. Begitu pula Departemen Kesehatan telah mendorong rumah sakit di Indonesia untuk mengamalkan budaya kerja baru yang lebih memperhatikan kepentingan pasien dan keluarga.

Jika selama ini kami para dokter mungkin merasakan kami dibutuhklan pasien, maka budaya baru tersebut adalah kami, para dokter, perlu memberi layanan terbaik untuk pasien dan keluarga. Sikap ini tidak hanya berkaitan dengan akan diberlakukannya pasar global, tetapi sebenarnya yang paling hakiki adalah profesi kedokteran menghendaki dokter mengutamakan kepentingan pasien. Salah satu ciri profesi adalah altruisme (mengutamakan kepentingan orang banyak), ciri ini dianut profesi kedokteran.

Pemerintah telah mengundangkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran yang isinya mengatur dokter dalam melaksanakan praktik kedokteran di Indonesia. Usulan Anda tepat waktu mungkin usulan tersebut diperlukan oleh Dewan Kedokteran Indonesia yang tidak lama lagi akan terbentuk sehingga dapat diwujudkan melalui pembinaan, peraturan, dan pengawasan.

Namun, yang lebih penting masukan Anda (sekurangnya bagi diri saya) mengingatkan dokter akan sumpah dokter dan etika kedokteran. Saya percaya komunikasi yang baik antara dokter dan pasien serta empati dokter terhadap pasien akan mendukung pelaksanaan etika kedokteran. Sekali lagi terima kasih atas usulan Anda.*

Konsultasi: Cara Kerja DOKTER

Oleh: dr. Samsuridjal Djauzi

Kasus:

"Istri saya berumur 28 tahun. Kami menikah tiga tahun yang lalu dan mempunyai seorang anak laki-laki berumur satu setengah tahun. Sejak menikah istri saya sehat-sehat saja, namun sebulan lalu ia terkena demam cukup lama, hingga lebih dari sepuluh hari. Di samping itu, rambutnya rontok lebih banyak dari biasa.

Kami berobat ke dokter dan dokter menduga terkena demam tifoid. Memang istri saya bekerja dan makan siangnya di kantor dibeli di pinggir jalan. Jadi, masuk akal jika tertular tifus. Setelah mendapat terapi dan menjalani pemeriksaan laboratorium, demamnya turun. Namun, seminggu kemudian demam timbul kembali. Kami menduga dia terlalu cepat masuk kantor dan kurang istirahat.

Istri saya berkonsultasi kembali dengan dokter dan setelah melakukan pemeriksaan jasmani dokter mengatakan mungkin penyakit istri saya bukan demam tifoid, melainkan lupus. Saya agak tercengang mendengar penjelasan dokter. Bagaimana mungkin dokter salah diagnosis dan tentu juga telah dia memberikan obat yang salah untuk istri saya. Bukankah demam tifoid berbeda dengan lupus?

Kami mematuhi anjuran dokter dan istri saya menjalani pemeriksaan laboratorium lebih lanjut. Ternyata hasil laboratorium menunjukkan istri saya memang terkena lupus. Menurut dokter, lupus yang diderita istri saya belum menimbulkan kerusakan pada ginjal atau sistem darah. Beliau memberikan obat jenis prednison yang harus diminum sehari 12 tablet. Setelah meminum obat tersebut demam mulai turun dan gejala yang dirasakan istri saya seperti pegal-pegal dan seriawan mulai berkurang. Pada permulaan minum obat prednison istri saya merasakan perutnya perih, namun sekarang sudah merasa lebih baik.

Ketika kakak perempuan istri saya mengetahui bahwa istri saya minum prednison dia mengatakan prednison adalah obat yang keras dan banyak efek sampingnya. Dia menganjurkan untuk berhenti minum obat dan menyalahkan dokter yang mengobati istri saya. Menurut dia prednison dapat menimbulkan darah tinggi, gula, dan tulang keropos. Saya sulit mengabaikan anjuran kakak ipar saya tersebut karena dia bekerja di apotek sebagai asisten apoteker.

Sekarang saya menjadi bingung. Hasil pengobatan menunjukkan perbaikan, namun saya juga khawatir terhadap pengaruh obat prednison tadi. Apalagi saya juga menyadari bahwa dokter istri saya ini pernah salah diagnosis. Bagaimana pendapat dokter mengenai hal ini? Saya rajin mengikuti acara kesehatan di televisi dan surat kabar. Beberapa kali saya menanti saat untuk bertanya pada dokter di acara kesehatan televisi, namun tak mendapat waktu. Jadi mohon penjelasan dokter, adakah obat yang lebih baik untuk istri saya?"

(Suwardi Jakarta)

Jawab:

MENURUT hemat saya dokter istri Anda telah bekerja secara profesional. Untuk dapat membantu memecahkan masalah kesehatan penderita, termasuk menetapkan diagnosis dan terapi, maka dokter perlu mengumpulkan data.

Pada konsultasi pertama data tersebut dikumpulkan dari wawancara dengan istri Anda (dalam istilah kedokteran disebut anamnesis) serta melakukan pemeriksaan jasmani. Berdasarkan data yang terkumpul tersebut, maka dokter memikirkan sejumlah penyakit yang mungkin menimbulkan gejala yang dialami oleh istri Anda.

Mungkin ada sekitar 4-5 penyakit yang dapat menimbulkan demam lebih dari seminggu serta rambut rontok. Penambahan data dari pemeriksaan jasmani penderita akan mempersempit kemungkinan penyakit penyebab. Amatlah dapat dipahami dokter Anda memilih demam tifoid sebagai kemungkinan terbesar yang menimbulkan keluhan pada istri Anda. Namun, dia sebenarnya juga memikirkan kemungkinan lain.

Untuk tahap pertama, maka diberikan obat untuk dugaan penyakit tadi. Tetapi biasanya dia akan memantau hasil terapi dan juga melakukan pemeriksaan penunjang (laboratorium dan rontgen) untuk mengikuti apakah dugaan tadi benar atau perlu dipilih penyakit lain.

Pada konsultasi berikut ternyata dokter-setelah mempertimbangkan perjalanan penyakit, pemeriksaan jasmani ulang, pemeriksaan laboratorium, dan hasil terapi-mengubah diagnosis menjadi Lupus Eritematosus. Perubahan diagnosis ini berdasarkan data dan amat lazim dilakukan oleh dokter di mana pun di dunia ini. Jadi, kurang tepat kalau kita anggap sebagai salah diagnosis.

Memang banyak penyakit yang diagnosisnya dapat ditetapkan pada kunjungan pertama, tetapi juga cukup banyak penyakit yang memerlukan pemantauan lama dan pemeriksaan lengkap untuk sampai pada terapi. Patut diingat bahwa tugas dokter adalah meningkatkan kualitas hidup penderita, selain menyembuhkan. Jadi, terapi harus dimulai meski diagnosis yang tepat belum dapat dipastikan.

Biasanya obat yang digunakan adalah obat yang menghilangkan keluhan (obat demam misalnya) dan juga obat untuk terapi dugaan penyakit (dalam hal ini antibiotik untuk demam tifoid). Obat yang diberikan telah dipertimbangkan lebih banyak manfaat daripada pengaruh buruknya.

Saya merasa bahwa sebenarnya proses diagnosis Lupus Eritematosus terhadap istri Anda cukup cepat ditegakkan. Jadi, terapi pun dapat dilaksanakan lebih tepat. Sekarang sudah terlihat manfaatnya. Terapi yang diberikan tidak hanya bertujuan untuk menghilangkan gejala, tetapi juga mencegah atau menghentikan proses kerusakan organ tubuh akibat lupus ini.

Orang yang paling berwenang untuk mengubah terapi adalah dokter yang memahami masalah istri Anda dan mempunyai data yang lengkap tentang keadaannya. Hasil terapi tidak hanya ditentukan oleh jenis obat, tetapi juga pada pemahaman tentang keadaan fisik dan emosional istri Anda.

Sebaiknya, tidak seorang pun, termasuk saya, mengintervensi hubungan dokter-pasien yang telah terbina. Pilihan terapi yang dilakukan dokter telah mempertimbangkan dengan baik-baik segi manfaat dan mudarat obat yang dipilih. Orang lain hanya tahu sepotong-sepotong. Karena itu, tidak dapat dijadikan dasar untuk mengubah atau mengganti terapi.

Oleh karena itu, jika ada hal yang belum jelas dapat Anda komunikasikan dengan dokter yang menangani istri Anda, termasuk efek samping steroid yang diberikan kepada istri Anda. Informasi dari ruang kesehatan di televisi, surat kabar (seperti ruang konsultasi kesehatan ini ), dan sebagainya tidak dapat dijadikan dasar untuk mengubah atau menghentikan terapi karena terapi hanya dapat diberikan melalui proses cara kerja dokter yang telah dijelaskan. Cara kerja tersebut berlaku universal di seluruh dunia karena sudah merupakan kebiasaan profesional seorang dokter.

Mudah-mudahan penjelasan ini bisa membantu dan istri Anda tetap dalam keadaan baik. *

Agar Dokter Rasional Menulis Resep!

Membunuh lalat dengan pistol, termasuk pilihan cara membunuh yang tidak rasional. Yang sama bisa terjadi dalam resep dokter. Pihak pasien bisa membuat dokter tidak rasional dalam menulis resep. Apa kiat pasien agar resep dokter tergolong resep yang rasional?

Ms. Ari memilih pindah dokter karena dengan resep dokter yang sebelumnya, konon lama sembuhnya. “Sekarang saya puas dengan dokter yang sudah tiga tahun ini jadi langganan setiap kali sakit. Dia lebih bertangan dingin, lho! Obatnya baru sekali minum saja, langsung hilang keluhannya, dan rasanya sudah sehat beneran katanya kepada teman jalan paginya.

Betulkah sikap pasien Ms. Ari yang seperti itu? Mari kita lihat.

Dokter - Pasien

* Hilangnya keluhan belum berarti sudah sembuh penyakitnya. Dan tujuan dokter memberikan terapi memang agar penyakit berhasil disembuhkan, bukan semata-mata meniadakan keluhannya.

Berhasil menyembuhkan itulah yang merupakan bagian dan seni dokter mengobati (art and science). Lebih separuh keberhasilan seorang dokter dalam memberikan terapi terletak pada bagaimana dokter dengan tepat mengorek keluhan pasien (anamnesis). Dari anamnesis yang berkualitas, lebih separuh kemungkinan diagnosis sudah di tangan.

Untuk memetik anamnesis yang bagus, komunikasi dokter-pasien juga harus bagus. Pasien perlu membantu dokter untuk mampu menangkap secara bulat apa yang pasien rasa dan alami.
Berbeda dengan mesin mobil atau pesawat TV, mesin tubuh pasien tak bisa seenaknya dibuka dan dikorek-korek untuk melihat lokasi kerusakan, dan bagian mana yang rusak segampang membuka kap mesin mobil atau melepaskan baut TV. Dokter hanya bisa mengandalkan telinga mendengarkan keluhan pasien, dan melihat tanda serta gejala penyakitnya saja.

Hanya pada penyakit kulit, kecacatan, atau kelainan fisik akibat gangguan otak, dokter bisa mengandalkan penglihatannya untuk mendiagnosis. Untuk penyakit dalam, penyakit kehamilan, penyakit bedah, dan kelainan organ dalaman lain, dokter perlu mengerahkan seluruh panca indra dan ilmu yang dimilikinya, dan itu pun belum tentu berhasil mendiagnosisnya. Dari pemeriksaan kasar bagian luar seperti itu hanya menjadikan pikiran dokter dibuat terarah kepada beberapa kemungkinan penyakit saja.

Untuk lebih memastikan apa yang sudah dipikirkan ihwal dugaan akan beberapa kemungkinan penyakit, dokter melakukan pemeriksaan fisik yang lebih terfokus. Hanya memeriksa yang bersesuaian dengan penyakit yang sedang dipikirkannya. Jadi memang tak ada alasan setiap pasien perlu membuka seluruh bajunya bila dokter hanya berpikir ada yang tak beres di
dengkul pasien.

Pemeriksaan Tambahan

* Ada penyakit yang langsung bisa didiagnosis di kamar praktik, ada juga yang tidak. Dan bila setelah berkutat sampai tahapan pemeriksaan fisik dokter belum juga bisa menyimpulkan apa penyakitnya, dokter akan meminta pasien menempuh pemeriksaan tambahan sesuai dengan kebutuhan.

Untuk itu mungkin hanya perlu pemeriksaan laboratorium, atau rontgen, USG, MRI, rekam jantung, rekam otak, rekam otot, atau yang lainnya, sesuai dengan kebutuhan untuk menunjang dugaan penyakit apa yang dokter pikirkan. Bila dokter mencurigai tifus, misalnya, dokter akan memeriksa laboratorium darah. Curiga kelainan jantung, perlu ECG. Curiga maag, perlu periksa kuman dan darah. Memeriksa apa saja yang tidak jelas juntrungannya, tidaklah rasional dalam mendiagnosis.

Jadi, tidak serta-merta semua pasien diminta dokter harus melakukan pemeriksaan macam-macam kalau di kamar praktik diagnosis sudah bisa ditegakkan. Pemeriksaan tambahan selain untuk menunjang diagnosis, sering juga dimanfaatkan untuk konfirmasi penyakit, atau untuk keperluan memastikan kesembuhan penyakit.

Prosedur pemeriksaan yang benar pun belum tentu akan membuahkan diagnosis yang tidak meleset. Faktor-faktor seperti cara pendekatan dokter, isi kepala dokter, dan keterampilan melakukan pemeriksaan pasien, menentukan jitu tidaknya dokter mendiagnosis. Faktor pengalaman (jam terbang) dokter, tidak boleh pula dilupakan.

Di mata dokter yang sudah banyak jam terbangnya, kasus tifus mungkin sudah bisa dipastikan di kamar praktik. Sebaliknya, di depan dokter yang belum berpengalaman, ditambah ilmunya yang mungkin minim, dan nalar medisnya cetek, kasus patek atau malaria, yang buat dokter jelas-jelas tergolong spesifik, bisa saja luput terdiagnosis.

Jadi bertangan dingin tidaknya seorang dokter ditentukan oleh keterampilannya menetapkan penyakit dengan sekujur panca indra dan ilmu yang dimiliknya, ditambah perigel tidaknya dokter melakukan pendekatan terhadap pasien. Jangan dilupakan bagaimana dokter menghadirkan citra profesinya di depan pasien.

Resep Ideal

* Dokter bisa genit pula dalam menuliskan resep. Adakalanya resep yang murah gagal menyembuhkan bila pasien skeptis terhadap obat berharga rendah. Sebaliknya, pasien yang lugu dan sembuh dengan obat murah asal tepat pilihannya bisa menimbulkan penyakit baru kalau harga resep yang dokter berikan lebih besar dari isi koceknya.

Waktu sekolah, dokter dididik bagaimana menulis resep yang ideal. Artinya tepat pilihannya, tak berlebihan jenisnya, persis dosisnya, dan pertimbangan harga yang paling rendah. Kalau bisa hanya satu jenis obat, dan ada pilihan yang lebih murah, mengapa harus memberi lebih dari satu jenis, dan memilih yang harganya lebih tinggi pula.

Dalam hal ini pasien perlu kritis dalam menerima resep dokter. Pasien perlu bertanya untuk setiap obat yang dokter resepkan, untuk apa, berapa lama, dan apa saja efek sampingnya, apa yang akan terjadi setelah obat selesai dikonsumsi, kapan obat dihentikan, dan bolehkah resep ditebus ulang, serta banyak lagi yang perlu ditanyakan.

Dokter tidak patut menolak untuk menjawab setiap pertanyaan pasien, termasuk pertanyaan ihwal resep yang ia tulis. Hak pasien untuk tahu segala yang dokter berikan dan akan lakukan, bahkan Sebelum semua itu berlangsung (informed consent). Dan hak pasien pula, bila setelah mendengar penjelasan dokter, untuk menolaknya.

Dengan cara demikian, pasien tidak menerima saja, mungkin sesuatu yang tidak perlu, atau mungkin berlebihan, dan menyimpan bahaya. Dengan cara begitu pula dokter lebih terkendali dalam menuliskan resep, atau melakukan tindakan medisnya. @

Obat Generik Tidak Sehebat Obat Bermerek? Apa Betul ...

Oleh Handrawan Nadesul, Dokter Umum

Mendengar obat generik, awam umumnya berasosiasi obat kelas dua. Obat generik dianggap obat bagi kaum tak mampu. Bukan salah kaum awam bila pamor obat generik selalu tidak sehebat obat bermerek. Apa betul begitu?

Mestinya tidak begitu. Kurangnya informasi ihwal obat generik, saah satu penyebab kenapa obat ini tidak dilirik orang. Sikap skeptis begini, selain merugikan pemerintah, pihak pasien sendiri selalu menjadi tidak efisien dalam membeli obat.

Orang lupa kalau kualitàs obat tidak selalu ditentukan oleh tingginya harga. Semua obat baru, tentu harus dibayar tinggi untuk jasa penemuannya, yang menjadi hak monopolinya. Namun, tentu tidak semua penyakit yang pasien derita memerlukan jenis obat baru.

Kita tahu setiap negara wajib menyusun daftar obat esensial (DOE), sejumlah jenis obat yang paling dibutuhkan di suatu negara, dan yang tergolong sering dipakai. Daftar ini dapat ditambah atau dikurangi oleh pemerintah sesuai kebutuhan negara.

Semakin bijak keputusan menyusun DOE, semakin diuntungkan pihak konsumen. Lebih bijak kalau jumlah jenis obat yang dinilai layak tidak semakin banyak. Semakin sedikit jenis obat DOE, semakin rasional obat yang bakal digunakan dalam praktik keseharian.

Namun, yang terjadi sekarang, dan itu sudah lama berlangsung, DOE kita cenderung tambun. Dan faktanya bukan cuma itu. Merek obat dan jenis yang sama pun terus bertambah, bikin bingung dokter saat menulis resep. Kalau ada seratus jenis obat esensial, dan masing-masing jenis obat diproduksi oleh sepuluh merek obat, berapa ribu merek obat yang harus dokter ingat.

Bayangkan kalau untuk obat batuk yang sama tersedia puluhan merek. Duplikasi obat begini yang membuat persaingan harga obat semakin kurang sehat. Siapa merek obat yang berani lebih centil mempengaruhi dokter dan menulis resep, merek itu yang berpotensi menguasai pasar. Saking menjamurnya merek obat dan jenis obat yang sama, bukan kejadian jarang pasien lebih mengenal merek obat ketimbang dokter.

Apa Obat Generik Itu?

Pada mulanya memang belum ada obat generik. Semua obat sejak saat mulai ditemukan memproklamirkan diri sebagai obat bermerek yang dipatenkan. Baru setelah hak paten obat habis masanya (sekitar 10 tahunan setelah dipasarkan), pihak lain boleh memproduksinya dengan merek masing-masing.

Itu maka untuk jenis obat yang isinya sama terdapat puluhan merek. Sama-sama nasi gorengnya, tetapi beda sajian dan merek penjualnya. Dengan cara seperti itu pula obat generik lahir.

Semua jenis obat bermerek yang sudah lewat hak patennya boleh diproduksi sebagai obat generik, dan menjadi hak semua pabrik farmasi untuk memproduksinya kalau mau. Dan lantaran monopoli patennya sudah habis, harga bahan baku obat sudah jauh di bawah harga selagi masih dijual sebagai obat paten bermerek. Itu berarti isinya persis sama, tetapi harganya sudah jauh lebih murah.

Jadi sebetulnya memang tidak ada alasan, termasuk alasan medis, untuk menyangsikan keampuhan khasiat obat generik, siapa pun yang memproduksinya, pasti tak berbeda bahan baku obatnya. Terkecuali bila dalam memproduksinya, misal, ada kenakalan untuk mengurangi takaran bahan baku, atau kegiatan memalsukannya. Selama takarannya utuh, dan dikemas secara benar, obat generik sama persis dengan obat bermerek aslinya, asalkan tidak sudah kedaluwarsa.

Melihat kelahiran obat generik, seyogianya tidak ada alasan untuk menambahkan biaya promosi, biaya paten, dan ongkos lain, sebagaimana dihadapi semua obat baru ke dalam struktur harga obat generik. Modal obat generik semata-mata harga bahan baku dan ongkos produksi. Agar bisa lebih murah, hanya kedua komponen ini yang perlu ditekan, selain besaran profitnya tentu.

Hanya karena tiadanya kontrol atas harga, harga rata-rata obat kita cenderung dipatok sesuka hati. Misal, kebijakan pihak apotek boleh melaba sedikitnya sepertiga dari harga eceran tertinggi (HET). Kalau HET-nya saja dibiarkan sudah dipatok tinggi, bisá jadi paling kurang harga obat di tangan pasien sudah berlipat-lipat kali modalnya.

Seperti itu agaknya yang masih lazim terjadi di Indonesia, sebagaimana di kebanyakan negara tengah berkembang lain. Sudah tak mampu berobat, kebanyakan pasien papa kita harus memikul harga obat yang tidak murah pula. Maka selalu saja ada suara agar harga obat kita tidak lagi tertinggi di Asia, bahkan konon tertinggi di dunia.

Sebagai Komoditi Khusus

Sayangnya, obat tidak serupa nasi goreng atau gado-gado, yang boleh kapan-kapan saja dibeli. Dalam hal obat, mau kantong lagi penuh atau tidak, membeli obat tak mungkin ditunda. Proses penyakit berjalan terus, tak bisa menunggu sampai kantong tebal.

Kondisi seperti itu yang acap dialami kaum tak mampu kita. Mungkin mampu membayar dokter, tetapi tak mampu membeli obatnya. Tahu saja apa diagnosis penyakit dari dokter yang memeriksa, belum mengatasi penyakitnya jika tidak dilanjutkan dengan menebus obat, atau terpaksa harus menebus resep sebagian.

Kebijakan pemerintah baru-baru ini menurunkan harga sejumlah obat generik tentu melegakan hati. Kendati belum seluruh obat generik turun harganya, harus bersyukur ada niat baik itu. Namun, perlu ditinjau ulang agar bagaimana semua jenis obat generik (esensial) harganya dibuat semakin terjangkau oleh kaum papa. Dan itu cuma soal bagaimana menertibkan kontrol harga obat. Dengan kemauan pemerintah lebih transparan memasang bandrol setiap obat, misalnya.

Memang harus diakui, bahan baku obat masih bergantung dari luar. Saatnya pemerintah membangun industri kimia dasar, antara lain untuk memampukan diri memproduksi bahan baku obat. Hanya dengan cara demikian harga obat bisa ditekan serendah mungkin. @

Kisah Nyeri Kepala Istri Eko...

*) Aneurisma "Pembunuh" Nomor Dua di AS

EKO, karyawan Bank Central Asia cabang Thamrin itu kaget ketika istrinya, Isra Triasih, tiba-tiba terjatuh dari tempat tidurnya sambil memegangi kepalanya. Rasa nyeri yang dirasakan pada kepalanya bukan hanya membuat Isra kesakitan, tetapi kemudian membuatnya tidak sadarkan diri.

Dalam keadaan panik, Eko segera membawa istrinya ke sebuah rumah sakit di kawasan Bekasi. Segera kemudian perempuan berusia 33 tahun itu menjalani pemeriksaan MRI.

"Hasil pemeriksaan MRI menunjukkan adanya semacam tumor di dalam kepala istri saya. Namun dokter tidak terlalu yakin karena gelembung yang terlihat dari hasil MRI tidak menunjukkan seperti tumor, tetapi seperti balon karena transparan," ujar Eko saat ditemui di samping istrinya di RS Siloam Gleneagles, Karawaci, Minggu (25/7) lalu.

Atas saran dari dokter, Eko diminta untuk membawa istrinya ke sebuah rumah sakit pusat di Jakarta. Di rumah sakit itu, dokter pun ternyata mendiagnosa yang sama bahwa ada semacam tumor di kepala Isra. Hanya saja, dokter belum berani mengambil keputusan tindakan apa yang sebaiknya dilakukan terhadap sang pasien.

"Saya sempat bingung ketika dokter menyarankan untuk membawa pulang istri saya terlebih dahulu. Persoalannya, saya takut kalau istri saya mengalami lagi pusing yang tidak tertahankan. Kalau itu terjadi, saya melihat betapa kesakitannya dia dan kalau sudah tidak tahan dia kemudian pingsan," ujar Eko menceritakan keadaan istrinya.

Di tengah kebingungannya, Eko mengaku bertemu dengan seorang ibu yang sedang mengantarkan anaknya untuk menjalani fisioterapi di rumah sakit itu. Sang ibu menanyakan penyakit yang diderita istri Eko.

"Ibu itu mengatakan bahwa sakit istri saya hampir mirip gejalanya dengan sakit anaknya. Ibu itu menyarankan untuk berkonsultasi dengan Dokter Eka Wahjoepramono di RS Gleneagles. Bersyukurlah saya bisa menemui Dokter Eka dan bahkan kemudian diambil tindakan sehingga istri saya terkurangi penderitaannya," ujar Eko.

DOKTER Eka mengatakan bahwa apa yang dialami Ny Isra adalah aneurisma raksasa (giant aneurisma). Pembengkakan pembuluh darah lebih dari 2,5 sentimeter di dalam otak itu membuat seseorang sering mengalami sakit kepala yang sangat berat.

"Ketika terjadi perembesan darah di sekitar aneurisma itu maka kesakitannya sangat luar biasa. Itulah yang membuat Ny Isra begitu menderita dan bahkan sampai tidak sadarkan diri," ujar dr Eka.

Aneurisma disebabkan oleh kelemahan lapisan otot pada pembuluh darah otak. Pada manusia, aliran darah melalui arteri, tekanannya sangatlah besar. Tekanan itulah yang membuat lapisan otot pembuluh darah yang lemah itu kemudian melar dan ketika itu terus-menerus terjadi membuat pembuluh darah itu menggelembung seperti balon.

Menurut dr Eka, hanya sekitar satu persen saja aneurisma disebabkan oleh faktor keturunan. Selebihnya, aneurisma bisa disebabkan oleh hipertensi, infeksi pada pembuluh darah otak, atau jamur.

"Di Amerika Serikat, jumlah penderita aneurisma mencapai lima orang per 100.000 penduduk. Di sana, aneurisma menjadi penyebab kematian mendadak kedua setelah penyakit jantung," kata dr Eka.

Dalam kasus Ny Isra, maka pilihan tinggal dua yakni membiarkan aneurisma itu dengan konsekuensi sang pasien terus-menerus mengalami kesakitan dan satu saat bisa pecah yang bisa sangat fatal atau melakukan operasi untuk mengangkat aneurisma itu dari dalam otak. Ternyata pihak keluarga dan sang pasien memilih untuk dioperasi dan diangkat.

Operasi itu sendiri bukan tanpa risiko. Dari 101 operasi yang dilakukan di RS Gleneagles, menurut dr Eka, enam berakhir dengan kematian. Hal itu terutama terjadi ketika operasi dilakukan pada saat yang sudah terlambat yakni ketika aneurisma sudah pecah sebelum operasi dimulai.

"Dalam kasus Ny Isra, operasi yang dilakukan hari Jumat (23/7) berjalan lancar. Operasi yang dilakukan bersama Profesor Yoshio Suzuki, dokter tamu dari Universitas Nagoya, Jepang, berlangsung sekitar delapan jam. Dua hari lagi Ny Isra diperkirakan sudah bisa meninggalkan rumah sakit," ujar dr Eka ketika dihubungi hari Kamis (29/7). (tom)

Konsultasi: Mencegah Demam Tifoid

Oleh: dr. Samsuridjal Djauzi

Kasus:

"SAYA bekerja di sebuah restoran di Jakarta. Minggu yang lalu karyawan tempat saya bekerja mendapat imunisasi tifus (demam tifoid). Menurut penjelasan petugas kesehatan yang melaksanakan imunisasi, vaksinasi tifoid bermanfaat untuk melindungi karyawan dari penyakit tifoid. Sedangkan karyawan yang dalam tubuhnya terdapat kuman tifoid dapat menularkan kepada pelanggan melalui penyediaan makanan di restoran.

Saya dapat memahami jika imunisasi dapat melindungi penyakit, tetapi saya merasa heran kenapa petugas restoran dapat menularkan tifoid kepada tamu di restoran. Menurut pendapat saya, penyakit tifoid masih sering terjadi di masyarakat, terutama anak sekolah. Bagaimana cara mencegah penularan penyakit ini karena jika sudah terjangkit biasanya harus masuk rumah sakit. Biaya perawatan di rumah sakit sekarang ini mahal. Bagaimana gejala penyakit ini dan apa beda demam tifoid dengan para tifus?"

(S di J)

Jawaban:

* Demam tifoid (di masyarakat dikenal dengan nama sakit tifus) disebabkan kuman Salmonella typhi. Kuman ini masuk ke tubuh kita melalui makanan dan minuman yang tercemar. Setelah kuman masuk tubuh biasanya akan timbul gejala penyakit (masa inkubasi) setelah 7-21 hari.

Gejala yang utama adalah demam. Pada tahap permulaan demam meningkat secara bertahap selama 5-7 hari, setelah itu demam menetap tinggi. Selain demam, dapat terjadi gejala saluran cerna berupa kelainan di lidah serta rasa tak nyaman di perut. Dapat juga terjadi sembelit atau diare. Pada penyakit yang berat dapat timbul gangguan kesadaran. Bahkan akibat infeksi yang berat dapat terjadi syok. Untunglah dengan kemajuan terapi menggunakan antibiotik biasanya demam tifoid dapat disembuhkan. Meski demikian, sebagian kecil penderita ada yang meninggal akibat penyulit perdarahan usus atau syok.

Jika penyakit dapat diatasi, maka penderita akan sembuh. Gejala menghilang dan penderita dapat produktif kembali. Sebagian kecil penderita yang sudah tidak merasakan gejala ini berada dalam keadaan tetap mempunyai kuman tifoid dalam tubuhnya (biasanya di kandung empedu) dan mengeluarkan kuman ini melalui tinja atau urine. Dengan demikian, dia menjadi sumber penularan bagi orang lain meskipun orang tersebut sudah tidak mengalami sakit. Orang tersebut disebut carrier.

Nah, seorang petugas restoran yang menyediakan makanan jika dia menjadi carrier kuman tifoid berpotensi menularkan kepada pelanggannya, biasanya melalui tangannya yang tercemar kuman. Karena itu, diharapkan petugas restoran bebas dari penyakit demam tifoid dengan cara hidup bersih dan jika perlu menjalani imunisasi. Sedangkan petugas yang sudah menjadi carrier harus diobati dengan baik dan dia baru boleh bertugas kembali jika sudah tak mengeluarkan kuman lagi dari tinja atau urinenya.

Kuman tifoid yang mungkin terdapat pada tinja, urine, atau muntahan penderita dapat menularkan kepada orang lain sekitar 10 persen secara langsung, tetapi sebenarnya lebih banyak penularan secara tidak langsung (90 persen), yaitu melalui makanan dan minuman.

Makanan yang sering menjadi sumber penularan adalah kerang, daging, dan susu. Makanan atau minuman yang dapat menjadi sumber penularan adalah makanan atau minuman yang tidak dimasak dengan baik. Namun, makanan yang sudah dimasak masih dapat tercemar jika kontak dengan tangan yang kotor atau air yang mengandung kuman. Karena itulah makanan jajanan harus dijaga kebersihannya agar tidak menjadi sumber penularan penyakit ini. Vaksinasi tifoid dengan cara suntikan dapat mengurangi risiko penularan dan memberi perlindungan pada tubuh sekitar tiga tahun.

Demam paratifoid disebabkan oleh Salmonella paratyphi. Gejalanya hampir sama dengan demam tifoid, tetapi penyakit ini masa inkubasinya lebih pendek (4-5 hari). Masa sakit juga lebih pendek, begitu pula penyulit lebih jarang dibandingkan dengan demam tifoid. Jadi, boleh dikatakan demam paratifoid lebih ringan dibandingkan dengan demam tifoid.

Demam tifoid kerap didapatkan di negara yang masyarakatnya belum mengamalkan hidup bersih. Di negara maju, dinas kesehatan berkewajiban memantau kebersihan makanan. Restoran yang tercemar kuman akan ditutup untuk melindungi masyarakat. Di negeri kita pengawasan ini belum berjalan baik sehingga setiap orang diharapkan dapat memilih makanan dan minuman yang bersih agar dia terlindung dari penularan penyakit. Semoga penjelasan ini bermanfaat bagi Anda.*

http://www2.kompas.com/kesehatan/news/0503/27/090454.htm

TEH Manis Menambah ASI

Menyusui memang kewajiban setiap ibu. Air susu ibu (ASI) yang cukup akan membantu perkembangan otak, pertumbuhan bobot dan tinggi badan anak, serta menambah kekebalan tubuh si buah hati.

Sayangnya, lemahnya kucuran ASI sering menjadi masalah bagi para ibu yang tengah menyusui. Terutama, mereka yang sehari-hari harus bekerja di luar rumah.

Hal itu juga saya alami tatkala menyusui anak pertama. Ketika memasuki bulan keempat, produksi ASI mulai tidak mencukupi. Tak jarang ia menangis karena air susu yang keluar minim. Saya pun menderita kesakitan pada bagian payudara karena ia tetap mengisap puting saya meskipun ASI sudah terkuras habis.

Dari pengalaman itu, ketika anak kedua lahir, saya berusaha keras agar ASI tetap mencukupi. Di sela-sela jam kantor saya sempatkan pulang untuk menyusui, meskipun jarak kantor - rumah cukup jauh dan memakan waktu perjalanan sekitar 30 menit. Dengan cara ini sirkulasi ASI terus berlangsung dan kedekatan ibu dan bayi terjaga dengan baik.

Selain itu, saya berprinsip gizi dan jumlah makanan dan minuman yang dikonsumsi si ibu juga berperan penting. Untuk mencukupi kebutuhan saya dan bayi, saya makan secara teratur dengan kualitas dan kuantitas lebih dari ibu-ibu yang tidak menyusui. Minumnya dalam sehari minimal 11 gelas untuk mendukung proses pembentukan ASI.

Yang tak kalah penting, sebelum dan setelah menyusui saya selalu minum teh manis hangat ditambah dengan beberapa potong kue kering. Hasilnya, setiap kali menyusu, bayi saya menikmati sekali ASI yang diminumnya. Dia pun segera melepaskan puting susu saya begitu ASI habis karena sudah kenyang. (intisari)

Anak Secerdas Einstein, Apakah Masih Mungkin? Peran AA, DHA, dan Spingomielin

Penulis: Dr Dwi Putro Widodo SpA (K) Dokter Spesialis Saraf Anak

"KEDUA orangtuanya saja pintar, tidak heran anaknya juga pintar!" puji Lina saat melihat Rico (2) anak Santi, rekan sekantornya yang menunjukkan kepandaian berhitung. "Genius itu tergantung bibitnya sih ya? Buah kan jatuh tak jauh dari pohonnya" ujarnya menambahkan.

UCAPAN seperti itu sudah biasa kita dengar. Secara umum masyarakat banyak yang setuju dengan "logika" yang tampaknya sangat masuk akal tersebut. Padahal, menurut penelitian para ahli, laju tumbuh kembang dan tingkat intelegensia seorang anak tidak dipengaruhi oleh faktor keturunan saja. Ada tiga faktor yang saling memengaruhi, yaitu faktor genetik atau keturunan, faktor lingkungan, dan faktor gizi.

Faktor genetik tidak bisa kita ubah, tetapi sesungguhnya berperan hanya sekitar 30-40 persen. Sementara faktor lingkungan adalah masalah sehari- hari yang dihadapi seorang anak.

Seorang anak dengan IQ tinggi harus tetap diasah keterampilan, kerajinan, dan kemampuan berpikirnya oleh orangtua agar ia menampilkan dan bisa mempertahankan kecerdasannya.

Hal tentang faktor lingkungan ini pernah diutarakan oleh Bruce A Epstein, MD, ahli saraf anak dari Amerika Serikat. Ia mengungkapkan bahwa orangtua harus selalu mengasah atau merangsang berbagai kemampuan yang tersimpan di dalam otak sang anak secara terus- menerus karena kemampuan atau potensi yang tidak dirangsang lama-kelamaan akan menghilang.

Dan faktor ketiga adalah faktor gizi mirip bahan bakar pada proses kerja otak seorang anak. Pemenuhan nutrisi yang cukup merupakan syarat utama dalam perkembangan anak, termasuk perkembangan otaknya.

Perkembangan dan pertumbuhan otak

* Mutu otak seorang manusia telah ditentukan sejak sangat awal.

Proses pembentukan otak bersamaan dengan proses pembentukan seluruh organ tubuh, yaitu beberapa saat setelah terjadinya konsepsi, yaitu proses peleburan inti sel telur dan inti sel sperma. Selain itu, berbagai aktivitas otak selayaknya pada manusia normal telah berlangsung jauh sebelum sang bayi lahir.

Dalam proses belajar seorang bayi, Cynthia Sort, dalam bukunya, Dendrites are Forever, mengatakan, berbagai zat yang meningkatkan kinerja otak akan muncul secara luar biasa apabila seorang anak mengulang-ulang apa yang dipelajarinya.

Lalu apa dampak pengulangan terhadap sebuah pembelajaran?

Kata sebuah penelitian, pengulangan-pengulangan ini akan membuat proses penyimpanan hal-hal baru itu lebih efektif. Hal-hal baru tersebut akan masuk ke dalam benak dan kemudian menumbuhkan sel-sel otak baru.

Bila masukan makanan berkurang seperti anak malnutrisi, kandungan beberapa zat berguna dalam otaknya akan menjadi rendah. Dengan kata lain, kekurangan gizi menurunkan mutu otak seorang manusia.

Di masa kehamilan pun, meskipun massa otak janin hanya 16 persen dari tubuhnya, otak paling banyak memerlukan energi (lebih dari 70 persen) untuk proses tumbuh kembangnya. Energi itu terutama berasal dari deposit zat gizi dan asam lemak esensial tubuh ibunya.

Cepatnya pertumbuhan sel otak manusia pada usia bayi dan balita hingga mencapai taraf kesempurnaannya pada usia empat hingga lima tahun membuat faktor pemenuhan gizi sebagai faktor yang sangat vital. Bila asupan gizi tidak diperhatikan bukan tidak mungkin akan menimbulkan masalah, misalnya, terjadi ketidaksempurnaan pertumbuhan sel otak yang tentunya hal ini tidak akan bisa diperbaiki pada usia berikutnya.

Oleh karena itu, untuk tumbuh kembang otak bayi dibutuhkan makanan yang cukup serta baik kualitas maupun kuantitasnya. Komponen utama pembentuk otak adalah lemak dan bahan baku untuk membentuk sel-sel saraf baru di dalam otak adalah protein. Beberapa vitamin dan mineral berperan dalam kelancaran proses tumbuh kembang otak si kecil. Misalnya, Vit B12 berperan dalam membentuk cikal bakal tulang belakang dan sistem saraf pusat yang harus dipenuhi ibu dalam masa awal kehamilan.

Spingomielin, AA, dan DHA

* Salah satu hal terpenting dalam perkembangan otak adalah spingomielin yang merupakan salah satu bentuk dari spingolipid, yaitu suatu kompleks lipid kandungan lemak di dalam otak.

Menurut M Nazir HZ Sp AK, dalam makalahnya yang membahas spingomielin, spingolipid berperan sebagai kerangka penyusun membran sel serta banyak fungsi lain di dalam sel. Apabila masukan makanan berkurang seperti anak malnutrisi, kandungan spingomielin dalam otaknya akan menjadi rendah. Namun, keadaan ini dapat diatasi dengan memberikan diet yang mengandung spingomielin.

Kebutuhan tubuh akan spingomielin dipenuhi dari makanan yang dimakan sehari-hari serta dari hasil sintesis spingomielin dalam tubuh. Berbeda dengan spingolipid lainnya, spingomielin hanya terdapat pada membran sel hewan, sedangkan sayur dan buah-buahan lebih banyak mengandung glikolipid.

0,1-1,0 persen dari total lemak susu sapi mengandung fosfolipid dan 30 persen di antaranya terdiri dari spingomielin. Kandungan spingomielin dalam susu sapi ini tidak menetap tergantung kepada musim dan masa laktasi dari sapi tersebut. Kandungan spingomielin dalam ASI juga bervariasi.

Selain spingomielin, ASI juga mengandung fosfolipid, yang merupakan sumber fosforilkolin dalam sintesis spingomielin.

ASI sebagai makanan bayi yang utama kaya akan asam lemak rantai panjang tak jenuh ganda atau long chain polyunsaturated fatty acids (LCPUFA). Ada dua jenis LCPUFA yang berpengaruh dalam perkembangan otak dan kecerdasan, yaitu asam arakidonat atau arachidonic acid (AA) dan asam dokosaheksanoat atau docosahexanoic acid (DHA). AA dan DHA sendiri merupakan komponen penting sel otak. Kedua komponen ini dibutuhkan dalam jumlah besar pada saat tumbuh kembang otak bayi. Sekitar 25 dari 60 persen lemak, yang merupakan komponen utama struktur otak adalah DHA. Asam lemak ini diperlukan sejak bayi masih dalam kandungan hingga lahir dan tumbuh dewasa.

Di dalam tubuh sebenarnya bayi mampu membuat AA dan DHA sendiri yang berasal dari bahan dasar asam linoleat (LA) dan asam alfa linoleat (ALA). LCPUFA juga berperan penting untuk perkembangan kognitif, ketajaman penglihatan, dan pertumbuhan otak bayi. Sebelum lahir bayi mendapat asam lemak esensial ini secara langsung melalui plasenta. Setelah lahir, bayi memperolehnya dari ASI dan dari sintesis precursor asam lemak esensial secara endogen. Ketika bayi mulai mendapat makanan padat, LCPUFA diperoleh dari ikan, telur, dan daging.

DHA berperan untuk jaringan pembungkus saraf atau mielin, yang nantinya akan melancarkan pengantaran perintah saraf. Dengan kata lain, zat itu membuat jaringan saraf mampu mengantarkan rangsangan saraf ke otak dengan lebih baik. Untuk itu, asupan DHA harus dalam jumlah yang cukup.

Selain itu, tumbuh kembang janin juga dipengaruhi oleh kurangnya hormon tiroid serta gangguan metabolisme (ketidakmampuan tubuh ibu dalam menyerap dan mengirimkan zat-zat makanan yang masuk ke plasenta).

Kalau ini yang terjadi, perkembangan otak si kecil juga ikut terganggu. Hanya saja, bentuk gangguan yang dialaminya tergantung pada usia janin ketika mengalami kekurangan gizi. Misalnya, pada minggu ke-12, sebagian besar otak mulai terbentuk sesuai dengan bagiannya masing-masing. Bila si kecil kekurangan iodium, misalnya, dia berisiko tinggi untuk mengalami gangguan pembentukan bagian otak tersebut.

Merangsang dengan Dongeng

* Menurut pakar psikologi anak Dr Seto Mulyadi, saat anak menginjak usia balita, mendongeng bisa menjadi salah satu sarana yang cukup ampuh untuk berkomunikasi dengan mereka.

Pada usia 26 minggu pun, janin sudah dapat membedakan sikap dan perasaan ibu. Selain itu, janin juga sudah bisa diajak berkomunikasi.

Caranya ?

Anda dapat mengajaknya berbicara. Jadi, bukan saja perkembangan kemampuan otak si kecil yang Anda rangsang, melainkan juga Anda mulai menjalin ikatan dengan si kecil.

Lingkungan yang baik dan nyaman penting bagi optimalnya pertumbuhan dan perkembangan otak janin. Makanya, gangguan psikis ketika hamil akan meningkatkan risiko janin untuk mengalami gangguan sistem kardiovaskuler (sistem peredaran darah), gangguan metabolisme, serta hambatan kognitif di kemudian hari.

Selain itu, stres yang berhubungan dengan proses afektif dan rangsangan yang berhubungan dengan bagian otak janin, diduga dapat memengaruhi perkembangan emosi anak di kemudian hari.

Bahkan, stres terus-menerus yang terjadi selama masa kehamilan akan menyebabkan berat badan lahir bayi yang rendah serta meningkatkan risiko si kecil mengalami gangguan emosi dan hambatan kognitif kelak.

Peningkatan hormon glukokortikoid, yakni hormon yang membantu metabolisme karbohidrat dalam tubuh yang timbul bila ibu stres diduga berpengaruh dalam pembentukan sistem saraf pusat janin. Yakni, meningkatkan risiko terjadinya disfungsi perkembangan sistem saraf pusat di kemudian hari. Stres juga diduga akan menghambat aliran oksigen ke janin. Padahal, kurangnya asupan oksigen dapat mengganggu perkembangan otak.

Untuk mengatasi stres, olahraga merupakan pilihan yang tepat, apalagi, bila Anda berolahraga, aliran darah ke seluruh tubuh dan juga aliran oksigen menjadi semakin lancar.

Di samping itu, penyebab stres juga perlu dilacak serta dicarikan jalan keluarnya.*

10 Cara BEROBAT Secara EFISIEN

Oleh: Dr. Handrawan Nadesul, Dokter Umum

Dalam keadaan sekarang ini hidup terasa semakin sulit. Segala hal menjadi mahal. Dulu, jika sakit, tinggal pergi ke dokter. Tapi sekarang ini banyak orang yang tidak bisa selalu menebus obatnya, jika pergi ke dokter.

Sama seperti harga barang lain, harga obat pun ikut-ikutan terbang ke langit. Sementara upaya untuk mengobati diri sendiri pun bukan tanpa bahaya. Jika yang diobati sendiri bukan penyakit ringan, ongkos pengobatannya menjadi lebih besar. Misalnya, jika harus dirawat di rumah sakit. Memang ada kondisi yang bisa diobati sendiri dengan obat warung. Tapi ada saatnya pula kapan harus ke dokter, serta bagaimana bersikap kritis dan rasional dalam penggunaan obat.

Berikut ini ada sepuluh panduan yang mungkin bisa dimanfaatkan agar lebih efisien dalam berobat.

1. Tidak semua keluhan sakit memerlukan obat.

Betul. Bagaimanapun obat menjadi "racun" jika salah alamat dan dipakai secara berlebihan. Sekalipun itu obat warung, pasti ada efek sampingannya. Lebih-lebih jika sering dipakai. Efek sampingan obat sakit kepala terhadap ginjal dan hati, misalnya. Orang Amerika sudah jera, sebab obat sakit kepala (aspirin) dulu diperlakukan masyarakat mirip kacang goreng. Sakit kepala sedikit, langsung minum obat.

Pihak yang konservatif lebih takut menggunakan obat, sehingga tidak sebentar-sebentar minum obat. Betapa ringannya pun obat itu pasti ada efek buruknya bagi tubuh. Mereka yang bergerak di bidang pengobatan alternatif merasa prihatin atas pemakaian bahan kimia obat pada tubuh. Pengobatan homeopathy, mixobition, prana, orthomoleculer medicine, accupressure, maupun akupungtur, sebetulnya hendak menjauhkan tubuh dari imbas bahan kimiawi obat. Jika masih bisa sembuh atau meringankan tanpa obat, sebaiknya tidak memilih obat.

2. Tidak semua obat menyembuhkan penyakit.

Memang, tidak semua obat menyembuhkan penyakit. Jika pemakaian obat yang sama untuk waktu lama tidak mengubah penyakit, mungkin obatnya memang tidak tepat. Dalam keadaan begini, sebaiknya obat segera dihentikan. Prinsip dalam memakai obat memperhitungkan unsur manfaat dan melupakan efek buruknya. Jika masih punya manfaat, efek buruk obat boleh dilupakan. Tapi jika minum obat tidak memberi manfaat, orang cuma memikul efek buruknya. Ini yang harus dicegah.

Banyak pasien kanker juga tidak sudi diberi obat, sebab efek buruk obat kanker dianggap menyengsarakan: rambut rontok, kulit jelek, dan sel darah rusak. Karena manfaatnya cuma memperpanjang hidup dan efek buruknya dirasa menyengsarakan, maka orang tidak memilih obat.

Obat menjadi tidak bermanfaat kalau dokter salah mendiagnosis. Pemakaian obat untuk penyakit baru yang tanpa reaksi kesembuhan harus dicurigai. Dalam hal ini selain salah mendiagnosis, bisa saja dokter salah memberi obat, atau obatnya memang palsu.

Rata-rata obat sudah memberikan reaksi setelah beberapa kali diminum. Obat suntik segera memberikan reaksi. Jika tidak ada reaksi sama sekali, tanyakan pada dokternya. Melanjutkan obat tanpa khasiat, selain merugikan kocek, juga memikul efek buruk obat.

3. Tidak semua obat dalam resep harus diterima.

Benar. Dalam meresepkan obat, dokter berpola pada dua hal. Pertama, memberikan jenis obat untuk meringankan keluhan dan penderitaan pasien. Jenis obat ini sebetulnya perlu tidak perlu. Jika pasien bisa tahan dengan keluhan demam, nyeri, batuk, mual, atau muntahnya, dan dokter memperkirakan tidak akan mengancam jiwa, obat pereda keluhan dan gejala tidak begitu perlu.

Yang lebih perlu tentu obat pokok. Obat ini yang membasmi atau meniadakan sumber penyakitnya. Kalau infeksi, ya, antibiotiknya. Kalau darah tinggi, ya, penyebab darah tingginya. Soal pereda demam, pereda nyeri kepala, pusing, boleh diberi boleh tidak.

Orientasi dokter sering memihak pada permintaan pasien. Kebanyakan pasien mengira keluhan dan gejala yang mereda identik dengan sembuh. Karena itu pasien (dan sering-sering juga dokter) lebih mementingkan obat simptomatik daripada obat untuk meniadakan penyebab penyakitnya. Dengan atau tanpa obat simptomatik, asal pilihan obatnya tepat, sebetulnya penyakit akan sembuh juga.

4. Mutu obat tidak ditentukan oleh harganya.

Bukan sebab harganya tinggi maka obat lebih bermutu. Semua obat generik, yang meniru obat aslinya, jika dibuat dengan standar pembuatan obat yang baik (CPOB), pasti sama manjurnya.

Banyak kali kesembuhan pasien ditentukan pula oleh faktor psikisnya. Rasanya kurang tokcer kalau tidak minum obat mahal. Pasien dari awal sudah tidak percaya pada obat yang berharga rendah. Sugesti begini bisa berpengaruh terhadap proses kesembuhan dan memang bisa tidak sembuh betulan. Efek placebo begini banyak menghantui orang kota. Imbasnya, dokter yang tak mau dianggap kurang bonafid akan selalu memberi resep yang mahal, walaupun ia tahu ada pilihan yang lebih murah. Takut pasien nggak sembuh. Padahal obat sama yang lebih murah mengobati lebih banyak pasien (di pedesaan) yang dari awalnya memang percaya saja.

5. Kebanyakan obat bisa menimbulkan penyakit baru.

Benar. Orang sekarang doyan sekali banyak minum berbagai jenis obat sekaligus. Minum obat jadi kebanggaan. Padahal di negara-negara maju, orang mampu pun semakin membatasi pemakaian obat.

Semakin berderet resep yang diberikan dokter, mungkin saja bisa mencerminkan keragu-raguan dokter. Tapi itu juga bisa untuk menenteramkan hati pasien, yang dianggap dokter punya efek menyembuhkan juga.

Banyak ahli obat mencemaskan kecenderungan dokter sekarang yang menulis resep lebih banyak. Resep yang disebut bersifat polypharmacy menjadikan perut pasien mirip apotek. Semua jenis obat masuk. Hal ini sering tidak rasional.

Pemakaian obat secara berlebihan yang tidak jelas manfaat dan tujuannya, jelas merugikan pihak pasien. Kasus kesalahan pihak dokter dalam memberi obat atau iatrogenic menjadi pembicaraan masyarakat modern. Kini, semakin banyak kasus orang sakit akibat kebanyakan obat yang tidak perlu. Penyakit iatrogenic sedang dicemaskan masyarakat yang sadar akan bahaya obat.

6. Pasien tetap punya hak bertanya.

Kesalahan selama ini sebab pasien tidak memanfaatkan haknya untuk bertanya pada dokter yang memeriksanya. Jangankan bertanya obat yang diberikan, soal apa penyakitnya pun sering pasien belum tahu. Pasien cenderung menerima saja apa yang dikatakan dan diberikan dokter.

Di pihak lain, kondisi yang tersedia pada kebanyakan dokter di negara berkembang kurang cukup waktu bagi dokter untuk menjawab pertanyaan pasien. Dokter berpikir, yang penting sembuh, pasien tak perlu banyak bertanya.

Namun dalam hal obat, pasien perlu bertanya. Kultur pasien di Barat selalu memanfaatkan haknya untuk bertanya. Bahkan bertanya apa saja, sebab memang kewajiban dokter untuk menjelaskan, apa yang dilakukan dokter terhadap diri pasiennya. Termasuk obat apa yang diberikan, bagaimana cara kerjanya, apa efek buruknya, dan seterusnya.

Pasien yang banyak bertanya menguntungkan dirinya dalam banyak hal. Begitu juga dalam hal resep yang dia terima. Mestinya, pasien menanyakan jenis-jenis obat yang diresepkan dokter. Apa gunanya dan apa bahayanya. Apakah boleh dikurangi? Misalnya, obat-obat yang cuma meringankan keluhan dan gejala, apa bisa dicoret dari resep atas kesepakatan dokternya.

7. Apotek tidak berhak menukar obat lain dari yang ditulis dokter.

Ya, acap kali terjadi apotek menukar obat yang tidak sesuai dengan yang dituliskan dokter tanpa sepengetahuan dokter. Motifnya lebih karena alasan ekonomi. Mungkin obat yang diminta dokter memang tidak ada. Agar pasien tidak mencari ke apotek lain, apotek menukarnya sendiri dengan obat yang sama dari pabrik yang lain.

Mungkin juga sebab kenakalan apotek, misalnya sengaja menukarnya dengan obat yang walaupun sama tapi harganya lebih tinggi, atau yang memberi untung lebih besar bagi apotek. Ini berarti merugikan kocek pasien, padahal khasiat kesembuhannya tidak berbeda. Sekali lagi obat yang lebih tinggi harganya tidak berarti selalu lebih manjur.

8. Tidak semua obat harus dihabiskan.

Pasien sering bingung apa obat yang diberikan dokter perlu dihabiskan atau tidak. Juga karena komunikasi pasien - dokter yang buntu, pasien dirugikan sebab memakai obat secara salah. Sebab, tidak semua obat yang diberikan dokter perlu dihabiskan. Obat jenis simptomatik, yaitu untuk meredakan keluhan dan gejala pasti tidak perlu dihabiskan. Hanya diminum kalau keluhan dan gejalanya masih ada atau muncul lagi.

Obat yang masih sisa sebaiknya disimpan baik-baik. Jika tahu indikasinya, obat yang disimpan baik bisa dipakai kembali jika mengalami keluhan yang sama.

9. Tidak setiap kali sakit perlu ke dokter.

Benar. Demi penghematan dan efisiensi, masih arif kalau tidak selalu pergi berobat setiap kali sakit.

Untuk dapat berperan demikian tentu perlu pengetahuan medis dari bacaan dan pergaulan. Jika batuk pilek saja, bisa minum obat sendiri. Begitu juga jika mulas, pening, pusing, atau mual.

Hampir kebanyakan penyakit harian, biasanya akan sembuh sendiri walaupun tidak diobati. Tubuh kita punya mekanisme penyembuhannya yang besar. Intervensi obat yang terlalu cepat atau berlebihan justru mengganggu mekanisme alamiah tubuh.

Obat warung dibutuhkan jika orang sudah merasa terganggu dengan keluhannya. Misalnya, peningnya bikin susah tidur, atau mualnya sampai nggak bisa makan, obat baru diperlukan. Selama bisa tanpa obat, biarkan tubuh menyembuhkannya sendiri.

Jadi, kapan kita harus ke dokter? Yaitu bila keluhan dan gejala yang sama tidak menghilang sampai beberapa hari. Atau keluhan dan gejala yang sama berkembang progresif. Semakin hari keluhan dan gejalanya semakin berat. Ini tanda penyakitnya bertambah parah dan perlu intervensi medis.

Batuk-pilek lebih dari seminggu pun perlu diwaspadai. Siapa tahu sudah radang paru-paru, sinusitis, atau congekan. Mengobati sendiri memang tidak selamanya aman, selain berisiko membiarkan penyakit telanjur bertambah parah. Tapi dengan pengetahuan dan wawasan medis yang semakin banyak, di saat harga obat dan berobat menjadi semakin mahal, upaya pengobatan sendiri menjadi pilihan untuk efisiensi.

10. Banyak upaya untuk pencegahan bisa dilakukan.

Motto lebih baik mencegah daripada mengobati harus diingat kembali. Sebetulnya, banyak upaya bisa dilakukan supaya tidak gampang sakit.

Pertama, kondisi tubuh jangan sampai diperlemah. Dalam kondisi seperti sekarang, stres bisa merusak badan juga. Orang kurang doyan makan, menu menurun mutunya, istirahat terganggu sebab semakin susah tidur, pekerjaan bertambah berat karena harus cari tambahan kiri-kanan. Semua itu memperburuk pertahanan tubuh.

Dalam kondisi pertahanan tubuh yang buruk penyakit mudah menyerang. Selain infeksi, maag, darah tinggi, herpes zoster, sering flu, atau kena virus lain yang kesemuanya lazim menyerang orang dengan kondisi tubuh yang dibiarkan menurun terus.

Dalam keadaan seperti sekarang ini, tetaplah hidup teratur. Dalam musim penghujan perlu membuat tubuh lebih hangat. Pilih menu yang hangat, seperti soto, sop, dan berprotein tinggi. Jauhkan menu dan jajanan yang dingin seperti gado-gado, rujak, asinan, buah dingin, masakan Padang, serta semua yang dihidangkan secara instan, tidak panas, atau dimakan mentah.

Ketika tubuh mulai terasa kurang enak, stop kerja berat, makan makanan yang lebih banyak mengandung protein (daging, ikan, susu, telur), dan beristirahat lebih banyak atau lebih sering. Jika merasa lesu dan mengantuk berarti tubuh memang mengajak kita untuk beristirahat. Isyarat ini jangan dilawan. Kalau memang maunya tidur terus, bawalah tidur dan jangan melakukan aktivitas apa pun, sekali pun menonton TV atau membaca.

Banyak penyakit yang menyerang orang yang tubuhnya sedang lemah. Semua penyakit virus, termasuk demam berdarah (yang kini cenderung menyerang orang dewasa juga, selain anak-anak), cacar air, herpes zoster dan herpes simpleks mulut, flu, dan banyak penyakit perut disebabkan oleh virus dari jajanan dan lingkungan kotor.

Semua ancaman di sekitar kita tidak mungkin kita redam. Yang bisa dilakukan hanya membuat tubuh lebih kuat dengan menu bergizi, cukup beristirahat, dan olahraga untuk melawan semua ancaman itu. Jika tubuh terasa loyo, mungkin diperlukan vitamin C, E, dan mineral lebih banyak, selain buah dan sayur-sayuran. *

Memacu IQ Selagi Ada Waktu ...

Anak cerdas tentu dambaan setiap orang, sebab kecerdasan merupakan modal tak ternilai bagi si anak untuk mengarungi kehidupan di hadapannya. Beruntung kecerdasan yang baik ternyata bukan harga mati, melainkan dapat diupayakan.

Dr. Bernard Devlin dari Fakultas Kedokteran Universitas Pittsburg, AS, memperkirakan faktor genetik cuma memiliki peranan sebesar 48% dalam membentuk IQ anak. Sisanya adalah faktor lingkungan, termasuk ketika si anak masih dalam kandungan.

Untuk menjelaskan peran genetika dalam pembentukan IQ anak, seorang pakar lain di bidang genetika dan psikologi dari Universitas Minnesota, juga di AS, bernama Matt McGue, mencontohkan, pada keluarga kerajaan yang memiliki gen elit, keturunannya belum tentu akan memiliki gen elit.

"Keluarga bangsawan yang memiliki IQ tinggi umumnya hanya sampai generasi kedua atau ketiga. Generasi berikutnya belum diketahui secara pasti, karena mungkin saja hilang, meski dapat muncul kembali pada generasi kedelapan atau berikutnya," ungkap McGue. "Orang tua yang memiliki IQ tinggi pun bukan jaminan dapat menghasilkan anak ber-IQ tinggi pula." Ini menunjukkan genetika bukan satu-satunya faktor penentu tingkat kecerdasan anak.

Faktor lingkungan, dalam banyak hal, justru memberi andil besar dalam kecerdasan seorang anak. Yang dimaksud tak lain adalah upaya memberi "iklim" tumbuh kembang sebaik mungkin sejak si anak masih dalam kandungan agar kecerdasannya dapat berkembang optimal. Dengan gizi dan perawatan yang baik misalnya, si Polan bisa cerdas. Atau dengan menjaga kesehatan secara baik dan menghindari racun tubuh selagi ibunya mengandung dia, si Putri dapat memiliki intelegensia baik. Begitu pula dengan memberikan kondisi psikologis yang mendukung, angka IQ si Tole lebih tinggi dari teman sebayanya. Gizi, perawatan, dan lingkungan psikologis itulah faktor lingkungan penentu kecerdasan anak.

Kisah Helen dan Gladys, sepasang bayi kembar, bisa menjadi salah satu buktinya. Pada usia 18 bulan mereka dirawat secara terpisah. Helen hidup dan dibesarkan dalam satu keluarga bahagia dengan lingkungan yang hidup dan dinamis. Sedangkan Gladys dibesarkan di daerah gersang dalam lingkungan "miskin" rangsangan intelektual. Ternyata saat dilakukan pengukuran, Helen memiliki angka IQ 116 dan berhasil meraih gelar sarjana dalam bidang Bahasa Inggris. Sebaliknya Gladys terpaksa putus sekolah lantaran sakit-sakitan dan IQ-nya 7 angka di bawah saudara kembarnya.

Gizi dan perilaku ibu

* Dr. Devlin menemukan bukti bahwa keadaan dalam kandungan juga sangat berpengaruh pada pembentukan kecerdasan.

"Ada otak substansial yang tumbuh dalam kandungan," jelasnya. "IQ sangat tergantung pada bobot lahir bayi. Anak kembar, rata-rata memiliki IQ 4 – 7 angka di bawah anak lahir tunggal karena umumnya bayi kembar memiliki bobot badan lebih kecil," tambahnya.

Lebih dari 20 tahun terakhir berbagai penelitian juga mengungkapkan korelasi positif antara gizi, terutama pada masa pertumbuhan pesat, dengan perkembangan fungsi otak. Ini berlaku sejak anak masih berbentuk janin dalam rahim ibu. Pada janin terjadi pertumbuhan otak secara proliferatif (jumlah sel bertambah), artinya terjadi pembelahan sel yang sangat pesat. Kalau pada masa itu asupan gizi pada ibunya kurang, asupan gizi pada janin juga kurang. Akibatnya jumlah sel otak menurun, terutama cerebrum dan cerebellum, diikuti dengan penurunan jumlah protein, glikosida, lipid, dan enzim. Fungsi neurotransmiternya pun menjadi tidak normal.

Dengan bertambahnya usia janin atau bayi, bertambah pula bobot otak. Ukuran lingkar kepala juga bertambah. Karena itu, untuk mengetahui perkembangan otak janin dan bayi berusia kurang dari setahun dapat dilakukan secara tidak langsung, yakni dengan mengukur lingkar kepala janin.

Begitu lahir pun, faktor gizi masih tetap berpengaruh terhadap otak bayi. Jika kekurangan gizi terjadi sebelum usia 8 bulan, tidak cuma jumlah sel yang berkurang, ukuran sel juga mengecil. Saat itu sebenarnya terjadi pertumbuhan hipertropik, yakni pertambahan besar ukuran sel. Penelitian menunjukkan, bayi yang menderita kekurangan kalori protein (KKP) berat memiliki bobot otak 15 – 20% lebih ringan dibandingkan dengan bayi normal. Defisitnya bahkan bisa mencapai 40% bila KKP berlangsung sejak berwujud janin. Karena itu, anak-anak penderita KKP umumnya memiliki nilai IQ rendah. Kemampuan abstraktif, verbal, dan mengingat mereka lebih rendah daripada anak yang mendapatkan gizi baik.

Asupan zat besi (Fe) juga diduga erat kaitannya dengan kemampuan intelektual. Untuk membuktikannya, Politt melakukan penelitian terhadap 46 anak berusia 3 – 5 tahun. Hasilnya menunjukkan, anak dengan defisiensi zat besi ternyata memiliki kemampuan mengingat dan memusatkan perhatian lebih rendah. Penelitian Sulzer dkk. juga menunjukkan anak menderita anemia (kurang darah akibat defisiensi zat besi) mempunyai nilai lebih rendah dalam uji IQ dan kemampuan belajar.

Maka atas dasar hasil penelitian tadi, kita bisa mengatur makanan anak sejak janin. Ketika anak masih dalam kandungan, si ibu mesti makan untuk kebutuhan berdua dengan gizi yang baik. Perilakunya juga mesti dijaga agar tidak memberi pengaruh buruk terhadap janin. Pasalnya, perilaku "buruk" ibu hamil, merokok misalnya, ternyata juga menjadikan IQ anak rendah.

Penelitian David L. Olds et. al. (1994) dari Departement of Pediatrics, University of Colorado di Denver, AS, menunjukkan bayi-bayi yang lahir dari ibu perokok memiliki faktor potensial ber-IQ rendah, seperti bobot lahir rendah, lingkar kepala lebih kecil, lahir prematur, dan perawatan saat di ICU lebih lama dibandingkan dengan bayi dari ibu tidak merokok selama hamil. Anak dari ibu perokok selama hamil pada usia 12 – 24 bulan memiliki nilai IQ 2,59 angka lebih rendah, pada 36 – 48 bulan memiliki nilai IQ 4,35 angka lebih rendah ketimbang IQ anak dari ibu tidak merokok saat hamil.

Menurut David, asap rokok diduga akan mengurangi pasokan oksigen yang sangat diperlukan dalam proses pertumbuhan sistem syaraf janin. Nikotin rokok akan membuat saluran utero-plasental menyempit. Akibatnya, sel-sel otak bayi akan menderita hypoxia atau kekurangan oksigen. Asap rokok juga akan memicu terjadinya proses carboxy hemoglobin, yaitu sel-sel darah yang semestinya mengikat oksigen malah mengikat CO dari asap rokok. Selain itu, asap rokok juga mengandung sekitar 2.000 – 4.000 senyawa kimia beracun yang secara langsung mengganggu dan merusak berbagai proses tumbuh kembang sel-sel dan sistem syaraf.

Merokok selama hamil juga berpengaruh pada kekurangan zat gizi yang diperlukan dalam proses tumbuh kembang sel otak. Misalnya, kebutuhan zat besi akan meningkat karena harus memenuhi keperluan pembentukan sel-sel darah yang banyak mengalami kerusakan. Hal ini akan mengurangi kemampuan dan persediaan zat gizi lainnya, seperti vit. B-12 dan C, asam folat, seng (Zn), dan asam amino. Zat-zat gizi tsb. dilaporkan sangat diperlukan dalam proses tumbuh kembang sel-sel otak janin. Jika terjadi kekurangan zat-zat gizi esensial, proses tumbuh kembang otak tidak optimal, sehingga nilai IQ pun menjadi lebih rendah.

Setelah lahir, asupan gizi bagi bayi juga harus dijaga tetap baik. Idealnya, anak mendapatkan ASI secara eksklusif sampai usia 4 – 6 bulan. Jenis makanan, selain ASI, untuk bayi dan anak balita sebaiknya dibuat dari bahan makanan pokok (nasi, roti, kentang, dll.), lauk pauk, bebuahan, air minum, dan susu sebagai sumber protein dan energi. Jangan lupa, bahan makanan harus diolah sesuai tahap perkembangan dari lumat, lembek, selanjutnya padat. Secara keseluruhan asupan makanan sehari harus mengandung 10 – 15% kalori dari protein, 20 – 35 % dari lemak, dan 40 – 60% dari karbohidrat.

Menu seimbang diberikan sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan. Sejak awal balita, jika memungkinkan, anak diberi susu sebanyak 500 ml. Namun, jika ASI cukup, susu pengganti tidak perlu diberikan hingga usia dua tahun.

Perhatian juga mesti diberikan terhadap jadwal pemberian makanan. Makan besar tiga kali (sarapan, makan siang, dan malam), makan selingan (makan kecil) dua kali yang diberikan di antara dua waktu makan besar, air minum diberikan setelah makan dan ketika anak merasa haus, serta susu diberikan dua kali, yakni pagi dan menjelang tidur malam.

Untuk mengetahui kecukupan gizi pada anak ada dua cara yang bisa digunakan. Pertama cara subjektif, yakni mengamati respon anak terhadap pemberian makanan. Makanan dinilai cukup jika anak tampak puas, tidur nyenyak, aktifitas baik, lincah, dan gembira. Anak cukup gizi biasanya tidak pucat, tidak lembek, dan tidak ada tanda-tanda gangguan kesehatan.

Cara kedua adalah dengan pemantauan pertumbuhan secara berkala. Cara ini dilakukan dengan mengukur bobot dan tinggi anak, dilengkapi dengan mengukur lingkar kepala pada anak sampai usia 3 tahun. Hasil pengukuran dibandingkan dengan data baku untuk anak sebaya. Jika ditemukan tanda-tanda kurang sehat, seperti pucat atau rambut tipis dan kemerahan, anak perlu diperiksa secara medis. Ada baiknya juga dilakukan pemeriksaan psikologis, terutama bila ada kemunduran prestasi belajar.

Tempat tinggal dan cerita

* Selain faktor gizi dan perawatan, apa yang dilihat, didengar, dan dipelajari anak, sejak dalam kandungan sampai usia lima tahun, sangat menentukan intelegensia dasar untuk masa dewasanya kelak.

Setelah usianya melewati lima tahun, secara potensial IQ-nya telah tetap. Dengan begitu, masa itulah merupakan "kesempatan emas" bagi kita untuk memacu tingkat kecerdasan anak.

Menurut Jean Piaget, psikolog dari Swis, semakin banyak hal baru yang dilihat dan didengar, si anak akan semakin ingin melihat dan mendengar segala sesuatu yang ada dan terjadi di lingkungannya. Karenanya disarankan agar orang tua memperkaya lingkungan tempat tinggal (kamar tidur atau kamar bermain) bayi dengan warna dan bunyi-bunyian yang merangsang. Umpamanya, gambar-gambar binatang atau bunga, musik, kicauan burung, dsb. Semuanya mesti tidak menimbulkan ketakutan dan kegaduhan pada anak.

Para pakar juga yakin lingkungan verbal bagi anak juga tak kalah pentingnya. Bahasa yang didengarkan anak bisa meningkatkan atau menghambat kemampuan dasar berpikirnya. Penelitian hal ini dilakukan psikolog Rusia. Ia membayar para ibu keluarga miskin untuk membacakan cerita dengan suara keras untuk bayi mereka masing-masing selama 15 – 20 menit setiap hari. Menjelang berusia 1,5 tahun, bayi menjalani pengukuran. Hasilnya, bayi-bayi itu memiliki kemampuan berbahasa yang lebih baik ketimbang bayi-bayi seusianya di daerah yang sama.

Penelitian lain dilakukan di sebuah sekolah perawat di New York, AS, terhadap dua kelompok anak usia tiga tahun. Masing-masing anak diperlakukan secara berbeda. Kelompok pertama diberi pelajaran berbahasa selama 15 menit setiap hari. Kelompok kedua diberi perhatian khusus juga selama 15 menit tanpa pelajaran bahasa. Setelah 4 bulan ternyata kelompok pertama mendapatkan kenaikan intelegensia rata-rata sebesar 14 angka. Sedangkan kelompok kedua kenaikan rata-ratanya cuma 2 angka.

Nah, untuk mendapatkan anak cerdas ternyata gampang. Cuma dengan memberi makanan sehat, perawatan baik, dan lingkungan psikologis yang mendukung sejak dalam kandung hingga usia lima tahun, besar kemungkinan harapan kita akan tercapai. (dr. Audrey Luize)

Jangan Gampang Minum Obat Sakit Kepala ...

Oleh: Dr. Handrawan Nadesul, Dokter Umum

Obat penghilang nyeri tergolong analgesic-antipyretic. Selain meredakan nyeri, sekaligus pereda demam juga. Jika diminum segampang kacang goreng, ginjal, hati, dan darah bisa rusak.

Pak Sat, 42 tahun, paling rajin minum obat. Sedikit-sedikit minum obat. Juga buat sakit kepalanya yang acap hilang timbul. Sudah lebih lima tahun belakangan ini ia rutin minum puyer sakit kepala. Kurang cespleng kalau sehari belum minum puyer.

Kemarin, Pak sat masuk RS. Perutnya mendadak mulas melilit. Kata dokter ususnya luka. Besar kemungkinan akibat keseringan minum puyer sakit kepala aspirin. Tinja berwarna hitam seperti ter, tanda ada luka berdarah di pencernaannya.

Obat analgesic-antipyretic ada beberapa jenis. Selain buat nyeri dan demam, jenis yang tergolong obat encok bisa meredakan nyeri selain mengatasi peradangan sendi juga.

Obat analgesic-antipyretic dipilah sesuai dengan kekuatan antinyeri dan antidemamnya. Ada jenis yang lebih kuat menghilangkan nyeri, ada pula jenis yang lebih kuat meredakan demamnya. Jenis obat dipilih sesuai kebutuhan kasusnya.

Jika dihimpun, efek samping, keracunan, kelebihan dosis, maupun akibat pemakaian lama, obat analgesic-antipyretic umumnya mengganggu pencernaan. Pasien maag perlu berhati-hati mengonsumsi obat jenis ini.

Selain berisiko menimbulkan perdarahan lambung dan usus, analgetic-antipyretic merusak ginjal, hati, dan darah. Pendengaran pun bisa menurun, muncul keluhan tujuh keliling (vertigo), dan mungkin kuping terasa berdenging (tinnitus). Selain itu, sel darah putih bisa berkurang, atau mudah teiradi perdarahan di organ mana saja akibat menurutmya zat pembeku darah.

Akibat rutin minum obat sakit kepala mungkin mendadak malah timbul demam tinggi tanpa sebab yang jelas. Bisa juga muncul depresi, kejang-kejang, atau perubahan perilaku. Jika kelebihan dosis, pernapasan akan tertekan, dan mungkin berakhir fatal.

Ada pula jenis obat sakit kepala yang “makan darah”. Haemoglobin, zat utama dalam sel darah merah, bisa ikut terganggu pula. Selain itu sel darah merah gampang hancur, sehingga yang doyan minum obat sakit kepala bisa kurang darah (anemia haemolytic).

Obat golongan ini ada juga yang merusak ginjal. Jika kebanyakan, lama kelamaan bisa berakhir gagal ginjal. Selain itu, ada pula jenis yang punya sifat pencetus kanker ginjal, dan kandung kemih.

Analgesic-antipyretic tergolong obat paling sering menimbulkan alergi. Yang berbakat alergi tak tahan terhadap beberapa jenis atau semua jenis obat golongan ini. Begitu minum atau disuntik, langsung muncul alergi kulit berupa biduran (kaligata).

Jika berat, mungkin disertai sesak napas, mual-muntah, dan bisa jadi sampai serangan syok.

Mencari akar penyakitnya

* Nyeri kepala, dan segala keluhan nyeri lain, sebetulnya cuma gejala dari suatu penyakit. Cukup banyak penyakit dengan gejala nyeri kepala. Kesalahan sering terjadi sebab yang acap diobati rasa nyerinya, dan bukan penyakit yang menimbulkan rasa nyerinya.

Kita tahu nyeri kepala bisa datang dari mana-mana bagian tubuh, termasuk dari jiwa juga. Orang yang mesti pakai kacamata baca, tapi abai, sering mengeluh nyeri kepala terus selama gangguan visus matanya tak dikoreksi. Waspada keluhan begini acap muncul pada usia mulai lewat 40.

Semua yang sudah melewati usia 40 butuh kacamata baca. Ini sering tidak disadari. Ketika jarak baca sudah harus lebih jauh dari sepenggaris, berarti mata perlu dikoreksi dengan kacamata baca. Jika tetap membaca tanpa bantuan kacamata baca, mata akan letih, lalu muncul nyeri kepala. Dengan bertambahnya umur, setiap 2-3 tahun kacamata baca perlu ditambah lensa plusnya.

Salahnya, pada keluhan nyeri kepala sebab mata tua (presbyopia) yang diobati cuma nyeri kepalanya, bukan matanya. Begitu obat tidak minum, nyeri kepalanya cekot-cekot lagi. Apalagi sehabis banyak membaca, lama di depan monitor, atau nonton televisi.

Nyeri kepala bisa pula berasal dari gigi, radang sinus, gangguan rongga hidung (kelainan sekat hidung), atau penyakit lambung. Selama penyakitnya tidak diobati, keluhan nyeri kepalanya muncul tèrus. Minum obat sakit kepala tidak menyelesaikan masalah.

Jika bukan penyakitnya yang diatasi, malah justru menimbulkan masalah baru. Pasien harus memikul efek samping, keracunan, atau kelebihan dosis obat sakit kepala.

Pasien encok korban terbanyak akibat obat pereda nyeri. Kita tahu tidak semua encok dapat sembuh. Pasien encok terus saja bergantung pada obat encoknya. Padahal tidak semua obat encok, termasuk obat tradisional (Cina), aman dipakai untuk waktu lama.

Kasus anemia, kelainan darah putih (agranulocytosis), serta gangguan sel darah lain sering diderita pasien encok yang salah memilih obat.

Beberapa jenis obat encok ilegal ditarik dari pasar selama ini sebab tidak aman buat tubuh. Mengapa? Sebab selain berisi obat pereda nyeri (jenis yang mungkin sudah dilarang beredar), tak sedikit obat encok ilegal, baik berupa kapsul maupun jamu, yang kedapatan menambahkan obat golongan corticosteroid (hormon), yang sekalipun berkhasiat, namun tak boleh dipakai untuk waktu lama.

Jiwa yang gundah, pikiran yang tegang, emosi yang gulana, bisa muncul sebagai keluhan nyeri kepala juga. Tentu yang harus diobati jiwanya, bukan nyeri kepala tegangnya.*

Kapan Harus Ke Dokter dan Minum Obat? BEROBAT BIJAK PANGKAL HEMAT

Tak selamanya orang sakit perlu ke dokter atau minum obat. Mengetahui kapan harus ke dokter, kapan mesti minum obat, dan bagaimana cara mencegah penyakit, jauh lebih bijak. Setidaknya, bisa membantu menghemat pengeluaran biaya kesehatan.

Sama seperti meroketnya harga barang-barang, harga obat kini ikut-ikutan terbang ke langit. Maka ada baiknya bersikap kritis dan rasional dalam penggunaan obat. Hampir kebanyakan penyakit harian akan sembuh, walaupun tidak diobati. Tubuh kita punya mekanisme penyembuhan sendiri. Intervensi obat yang terlalu cepat atau berlebihan justru mengganggu mekanisme alamiah tubuh.

Obat warung misalnya, dibutuhkan jika seseorang sudah merasa terganggu oleh keluhannya. Peningnya bikin susah tidur, atau mualnya sampai enggak bisa makan. Sedangkan ke dokter, "Bila keluhan dan gejala yang sama tidak menghilang sampai beberapa hari. Atau, keluhan dan gejala yang sama berkembang progresif. Keluhan dan gejalanya semakin berat. Itu tanda penyakitnya bertambah parah dan perlu intervensi medis," tandas dr. Handrawan Nadesul.

Berikut "panduan" dokter yang tinggal di Pondok Indah itu, agar aktivitas berobat berjalan lebih efisien.

Tidak semua keluhan perlu obat

Obat malah dapat menjadi "racun" jika salah alamat dan dipakai secara berlebihan. Lebih-lebih jika pemakaiannya cukup sering. Efek sampingan obat sakit kepala terhadap ginjal dan hati, misalnya. Orang Amerika Serikat sudah jera, sebab obat sakit kepala (aspirin) dulu diperlakukan masyarakat mirip kacang goreng. Sakit kepala sedikit, langsung minum obat.

Pihak yang konservatif sekarang lebih takut menggunakan obat, sehingga tidak sebentar-sebentar menenggak pil atau kapsul. Karena seringan apa pun obat, pasti ada efek buruknya bagi tubuh.

Begitu juga mereka yang bergerak di bidang pengobatan alternatif, merasa prihatin atas pemakaian bahan kimia obat pada tubuh. Homeopathy, mixobition, prana, orthomoleculer medicine, akupresur, dan akupuntur ditujukan untuk menjauhkan tubuh dari imbas bahan kimiawi obat. Jika masih bisa sembuh atau meringankan sakit tanpa obat, mengapa harus minum obat?

Tidak semua obat menyembuhkan

Memang, tidak semua obat menyembuhkan penyakit. Jika pemakaian obat yang sama untuk waktu lama tidak mengubah penyakit, mungkin obatnya tidak tepat. Dalam keadaan begitu, sebaiknya konsumsi obat dihentikan. Prinsip dalam memakai obat adalah memperhitungkan unsur manfaat dan melupakan efek buruknya.

Jika masih punya manfaat, efek buruk obat boleh dilupakan. Namun, jika minum obat tidak memberi manfaat, dan orang cuma memikul efek buruknya, tentu harus dicegah. Misalnya, banyak pasien kanker tidak sudi diberi obat, sebab efek buruk obat kanker dianggap menyengsarakan, misalnya rambut rontok, kulit jelek, dan sel darah rusak.

Obat juga tidak bermanfaat kalau dokter salah mendiagnosis. Pemakaian obat untuk penyakit baru yang tanpa reaksi kesembuhan harus dicurigai. Dalam hal ini, selain salah mendiagnosis, bisa saja dokter salah memberi obat atau obatnya palsu. sebab, rata-rata obat sudah memberikan reaksi setelah beberapa kali diminum.

Jika tidak ada reaksi sama sekali, tanyakan pada dokternya. Melanjutkan obat tanpa khasiat, selain merugikan kocek, juga menimbulkan efek buruk. "Pasien akan tahu bahwa obat tidak bermanfaat, ya dari tidak sembuh-sembuhnya itu."

Tidak semua obat di resep harus diterima

Pasien yang terdidik biasanya tidak mau terlalu banyak minum obat. Mereka pun tak malu bertanya kepada dokter tentang manfaat obat yang diresepkan. Kalau tidak perlu, mereka tidak akan menebusnya. Pertanyaan yang diajukan bisa lebih spesifik, misalnya, "Ini obat simptomatik atau bukan?"

Biasanya, dokter akan tersinggung, meski mengajukan pertanyaan itu sebetulnya hak pasien. "Di luar negeri hal seperti itu lazim dilakukan pasien. Pasien bisa menolak resep obat bila dirasa kurang berguna atau memberi manfaat. Ingat sekali lagi, seringan apa pun obat membawa efek sampingan.

Dokter yang bijak biasanya selektif memberikan obat, dengan membuat resep yang rasional. Resep yang cerdas akan memberi sesedikit mungkin obat, tapi menyembuhkan. Bukan yang panjang daftar obatnya, walaupun juga sama-sama menyembuhkan.

Di masa krisis seperti sekarang, pasien dimungkinkan menebus resep setengah dari yang seharusnya. Dengan catatan, asal bukan antibiotik. Biasanya, dalam salinan resep dokter, obat antibiotik hanya satu. Hanya obat antibiotik yang tidak boleh ditebus setengah, karena bila yang diminum cuma setengah resep, pengobatan menjadi tidak tuntas, bahkan menimbulkan efek kekebalan. Satu resep antibiotik harus dihabiskan

Mutu tidak tergantung harga

Jelas, bukan harga tinggi yang menyebabkan obat lebih bermutu. Semua obat generik yang meniru obat aslinya, jika dicampur dengan standar pembuatan obat yang baik (CPOB), pasti sama manjurnya. Pengalaman menunjukkan, banyak kasus kesembuhan pasien justru ditentukan oleh faktor psikis.

Selama ini, banyak orang menganggap, kurang tokcer kalau tidak minum obat mahal. Dengan kata lain, si pasien dari awal sudah tidak percaya pada obat yang berharga murah. Sugesti begitu bisa berpengaruh terhadap proses kesembuhan, sehingga akhirnya tidak sembuh betulan. Efek plasebo begini banyak sekali menghantui orang kota.

Imbasnya, dokter yang tidak mau dianggap kurang bonafid, jadi terbiasa dan selalu memberi resep mahal, walaupun ia tahu ada pilihan obat yang lebih murah. Ironisnya, obat yang sama tapi lebih murah ternyata menyembuhkan lebih banyak pasien di pedesaan. Soalnya, mereka sejak awal percaya dengan khasiat obat yang diminum.

Obat timbulkan penyakit baru

Orang sekarang doyan sekali minum berbagai jenis obat sekaligus. Minum obat seolah jadi kebanggaan. Padahal di negara-negara maju, orang mampu sekali pun semakin membatasi pemakaian obat. Berderetnya obat dalam resep dokter, bisa saja justru mencerminkan keragu-raguan dokter, meski kadang dapat "menenteramkan" hati pasien.

Banyak ahli obat mencemaskan kecenderungan dokter sekarang, yang menulis resep lebih banyak. Resep yang disebut bersifat polypharmacy itu menjadikan perut pasien mirip apotek. Hal itu sering tidak rasional. Pemakaian obat secara berlebihan yang tidak jelas manfaat dan tujuannya akan merugikan pasien. Kasus kesalahan dokter dalam memberikan obat (iatrogenic) kerap menjadi pembicaraan dalam masyarakat modern.

Alhasil, kini semakin banyak kasus orang sakit akibat kebanyakan minum obat yang tidak perlu.

Pasien punya hak bertanya

Kesalahan selama ini, pasien tidak memanfaatkan haknya untuk bertanya pada dokter yang memeriksa. Jangankan bertanya obat yang diberikan, soal apa penyakitnya pun sering pasien tidak tahu. Pasien cenderung menerima saja alias manut pada apa yang dikatakan dan diberikan dokter.

Di lain pihak kondisi di negara berkembang umumnya memang menunjukkan kurangnya waktu bagi dokter untuk menjawab pertanyaan pasien. Yang penting sembuh. Namun mestinya, dalam hal obat, pasien perlu bertanya tentang obat apa yang diberikan, bagaimana cara kerjanya, apa efek buruknya, dan seterusnya. Perlu diingat, pasien yang banyak bertanya akan menguntungkan dirinya sendiri dalam banyak hal.

Apotek tidak berhak menukar obat

Acap kali terjadi, apotek menukar obat yang tidak sesuai dengan yang dituliskan dokter, tanpa sepengetahuan si pembuat resep. Motifnya lebih karena alasan ekonomis. Mungkin obat yang diminta dokter tidak ada. Nah, agar pasien tidak mencari ke apotek lain, mereka menukarnya dengan obat berjenis sama dari pabrik berbeda.

Bisa juga karena kenakalan apotek, yang sengaja menukar dengan obat - yang walaupun sama - tapi harganya lebih tinggi. Tentu saja yang rugi kocek pasien, karena khasiat kesembuhannya sebenarnya tidak berbeda.

Tidak semua obat harus dihabiskan

Pasien sering bingung, apakah obat yang diberikan dokter perlu dihabiskan. Kurangnya informasi soal ini bisa merugikan pasien, karena pasien akhirnya memakai obat secara salah. Sebab, tidak semua obat yang diberikan dokter perlu dihabiskan. Obat jenis simptomatik untuk meredakan keluhan dan gejala misalnya, pasti tidak perlu dihabiskan. Hanya diminum kalau keluhan dan gejalanya masih ada atau muncul lagi.

Obat yang masih tersisa sebaiknya disimpan baik-baik. Jika tahu indikasinya, obat yang disimpan baik itu masih bisa dipakai kembali, ketika datang keluhan yang sama.

Tidak setiap sakit harus ke dokter

Demi penghematan dan efisiensi, sungguh arif jika kita tidak selalu pergi ke dokter setiap kali sakit.

Untuk itu perlu pengetahuan medis dari bacaan dan pergaulan. Jika batuk-pilek saja, bisa minum obat sendiri. Begitu juga jika sekadar mulas, pening, pusing, atau mual. Tubuh sudah punya mekanisme penyembuhan sendiri. ]

Dengan kata lain, selama bisa tanpa obat, biarkan tubuh menyembuhkan sendiri. Pergi ke dokter sebaiknya jika keluhan dan gejala yang sama tidak menghilang sampai beberapa hari. Atau, bila keluhan dan gejala yang sama berkembang progresif. Batuk- pilek misalnya, kalau lebih dari seminggu perlu diwaspadai. Siapa tahu sudah radang paru-paru, sinusitis, atau congekan.

Mengobati sendiri memang tidak selamanya aman. Namun, dengan pengetahuan dan wawasan medis yang semakin banyak, di saat harga obat dan ongkos berobat menjadi semakin mahal, upaya pengobatan sendiri dapat menjadi pilihan untuk efisiensi.

Cegah Sebelum Sakit

Banyak hal yang dapat dilakukan agar tubuh tidak mudah sakit.

Pertama, kondisi tubuh jangan sampai diperlemah. Dalam kondisi seperti sekarang, stres bisa merusak badan juga. Misalnya, orang yang tidak doyan makan, menurunnya mutu menu, istirahat terganggu karena semakin susah tidur, pekerjaan bertambah berat karena harus cari tambahan kiri-kanan.

Semua itu memperburuk pertahanan tubuh. Dalam kondisi pertahanan tubuh yang buruk, penyakit jadi mudah menyerang. Selain infeksi, maag, darah tinggi, herpes, sering flu, atau kena virus lain yang semuanya lazim menyerang orang dengan kondisi tubuh yang dibiarkan menurun.

Kedua, tetaplah hidup teratur. Dalam musim penghujan, perlu membuat tubuh lebih hangat. Pilih menu yang hangat, seperti soto, sup, dan makanan lain yang berprotein tinggi. Ketika tubuh tidak enak, stop kerja berat, beristirahat lebih banyak, dan banyak makan yang mengandung protein tinggi (daging, ikan, susu, telur). Isyarat itu jangan dilawan. Jika merasa tubuh lesu dan mengantuk, bawalah tidur dan jangan melakukan aktivitas apa pun.

Banyak penyakit menyerang orang yang tubuhnya lemah. Semua penyakit virus, termasuk demam berdarah, cacar air, herpes zoster, dan herpes simplek mulut, flu, dan banyak penyakit perut disebabkan oleh virus dari jajanan dan lingkungan kotor. "Semua ancaman di sekitar kita tidak mungkin diredam. Yang bisa dilakukan hanya membuat tubuh lebih kuat dengan menu bergizi, cukup istirahat dan olahraga untuk melawan semua ancaman itu," tutup Handrawan Nadesul. *