Penulis: Dr Dwi Putro Widodo SpA (K) Dokter Spesialis Saraf Anak
"KEDUA orangtuanya saja pintar, tidak heran anaknya juga pintar!" puji Lina saat melihat Rico (2) anak Santi, rekan sekantornya yang menunjukkan kepandaian berhitung. "Genius itu tergantung bibitnya sih ya? Buah kan jatuh tak jauh dari pohonnya" ujarnya menambahkan.
UCAPAN seperti itu sudah biasa kita dengar. Secara umum masyarakat banyak yang setuju dengan "logika" yang tampaknya sangat masuk akal tersebut. Padahal, menurut penelitian para ahli, laju tumbuh kembang dan tingkat intelegensia seorang anak tidak dipengaruhi oleh faktor keturunan saja. Ada tiga faktor yang saling memengaruhi, yaitu faktor genetik atau keturunan, faktor lingkungan, dan faktor gizi.
Faktor genetik tidak bisa kita ubah, tetapi sesungguhnya berperan hanya sekitar 30-40 persen. Sementara faktor lingkungan adalah masalah sehari- hari yang dihadapi seorang anak.
Seorang anak dengan IQ tinggi harus tetap diasah keterampilan, kerajinan, dan kemampuan berpikirnya oleh orangtua agar ia menampilkan dan bisa mempertahankan kecerdasannya.
Hal tentang faktor lingkungan ini pernah diutarakan oleh Bruce A Epstein, MD, ahli saraf anak dari Amerika Serikat. Ia mengungkapkan bahwa orangtua harus selalu mengasah atau merangsang berbagai kemampuan yang tersimpan di dalam otak sang anak secara terus- menerus karena kemampuan atau potensi yang tidak dirangsang lama-kelamaan akan menghilang.
Dan faktor ketiga adalah faktor gizi mirip bahan bakar pada proses kerja otak seorang anak. Pemenuhan nutrisi yang cukup merupakan syarat utama dalam perkembangan anak, termasuk perkembangan otaknya.
Perkembangan dan pertumbuhan otak
* Mutu otak seorang manusia telah ditentukan sejak sangat awal.
Proses pembentukan otak bersamaan dengan proses pembentukan seluruh organ tubuh, yaitu beberapa saat setelah terjadinya konsepsi, yaitu proses peleburan inti sel telur dan inti sel sperma. Selain itu, berbagai aktivitas otak selayaknya pada manusia normal telah berlangsung jauh sebelum sang bayi lahir.
Dalam proses belajar seorang bayi, Cynthia Sort, dalam bukunya, Dendrites are Forever, mengatakan, berbagai zat yang meningkatkan kinerja otak akan muncul secara luar biasa apabila seorang anak mengulang-ulang apa yang dipelajarinya.
Lalu apa dampak pengulangan terhadap sebuah pembelajaran?
Kata sebuah penelitian, pengulangan-pengulangan ini akan membuat proses penyimpanan hal-hal baru itu lebih efektif. Hal-hal baru tersebut akan masuk ke dalam benak dan kemudian menumbuhkan sel-sel otak baru.
Bila masukan makanan berkurang seperti anak malnutrisi, kandungan beberapa zat berguna dalam otaknya akan menjadi rendah. Dengan kata lain, kekurangan gizi menurunkan mutu otak seorang manusia.
Di masa kehamilan pun, meskipun massa otak janin hanya 16 persen dari tubuhnya, otak paling banyak memerlukan energi (lebih dari 70 persen) untuk proses tumbuh kembangnya. Energi itu terutama berasal dari deposit zat gizi dan asam lemak esensial tubuh ibunya.
Cepatnya pertumbuhan sel otak manusia pada usia bayi dan balita hingga mencapai taraf kesempurnaannya pada usia empat hingga lima tahun membuat faktor pemenuhan gizi sebagai faktor yang sangat vital. Bila asupan gizi tidak diperhatikan bukan tidak mungkin akan menimbulkan masalah, misalnya, terjadi ketidaksempurnaan pertumbuhan sel otak yang tentunya hal ini tidak akan bisa diperbaiki pada usia berikutnya.
Oleh karena itu, untuk tumbuh kembang otak bayi dibutuhkan makanan yang cukup serta baik kualitas maupun kuantitasnya. Komponen utama pembentuk otak adalah lemak dan bahan baku untuk membentuk sel-sel saraf baru di dalam otak adalah protein. Beberapa vitamin dan mineral berperan dalam kelancaran proses tumbuh kembang otak si kecil. Misalnya, Vit B12 berperan dalam membentuk cikal bakal tulang belakang dan sistem saraf pusat yang harus dipenuhi ibu dalam masa awal kehamilan.
Spingomielin, AA, dan DHA
* Salah satu hal terpenting dalam perkembangan otak adalah spingomielin yang merupakan salah satu bentuk dari spingolipid, yaitu suatu kompleks lipid kandungan lemak di dalam otak.
Menurut M Nazir HZ Sp AK, dalam makalahnya yang membahas spingomielin, spingolipid berperan sebagai kerangka penyusun membran sel serta banyak fungsi lain di dalam sel. Apabila masukan makanan berkurang seperti anak malnutrisi, kandungan spingomielin dalam otaknya akan menjadi rendah. Namun, keadaan ini dapat diatasi dengan memberikan diet yang mengandung spingomielin.
Kebutuhan tubuh akan spingomielin dipenuhi dari makanan yang dimakan sehari-hari serta dari hasil sintesis spingomielin dalam tubuh. Berbeda dengan spingolipid lainnya, spingomielin hanya terdapat pada membran sel hewan, sedangkan sayur dan buah-buahan lebih banyak mengandung glikolipid.
0,1-1,0 persen dari total lemak susu sapi mengandung fosfolipid dan 30 persen di antaranya terdiri dari spingomielin. Kandungan spingomielin dalam susu sapi ini tidak menetap tergantung kepada musim dan masa laktasi dari sapi tersebut. Kandungan spingomielin dalam ASI juga bervariasi.
Selain spingomielin, ASI juga mengandung fosfolipid, yang merupakan sumber fosforilkolin dalam sintesis spingomielin.
ASI sebagai makanan bayi yang utama kaya akan asam lemak rantai panjang tak jenuh ganda atau long chain polyunsaturated fatty acids (LCPUFA). Ada dua jenis LCPUFA yang berpengaruh dalam perkembangan otak dan kecerdasan, yaitu asam arakidonat atau arachidonic acid (AA) dan asam dokosaheksanoat atau docosahexanoic acid (DHA). AA dan DHA sendiri merupakan komponen penting sel otak. Kedua komponen ini dibutuhkan dalam jumlah besar pada saat tumbuh kembang otak bayi. Sekitar 25 dari 60 persen lemak, yang merupakan komponen utama struktur otak adalah DHA. Asam lemak ini diperlukan sejak bayi masih dalam kandungan hingga lahir dan tumbuh dewasa.
Di dalam tubuh sebenarnya bayi mampu membuat AA dan DHA sendiri yang berasal dari bahan dasar asam linoleat (LA) dan asam alfa linoleat (ALA). LCPUFA juga berperan penting untuk perkembangan kognitif, ketajaman penglihatan, dan pertumbuhan otak bayi. Sebelum lahir bayi mendapat asam lemak esensial ini secara langsung melalui plasenta. Setelah lahir, bayi memperolehnya dari ASI dan dari sintesis precursor asam lemak esensial secara endogen. Ketika bayi mulai mendapat makanan padat, LCPUFA diperoleh dari ikan, telur, dan daging.
DHA berperan untuk jaringan pembungkus saraf atau mielin, yang nantinya akan melancarkan pengantaran perintah saraf. Dengan kata lain, zat itu membuat jaringan saraf mampu mengantarkan rangsangan saraf ke otak dengan lebih baik. Untuk itu, asupan DHA harus dalam jumlah yang cukup.
Selain itu, tumbuh kembang janin juga dipengaruhi oleh kurangnya hormon tiroid serta gangguan metabolisme (ketidakmampuan tubuh ibu dalam menyerap dan mengirimkan zat-zat makanan yang masuk ke plasenta).
Kalau ini yang terjadi, perkembangan otak si kecil juga ikut terganggu. Hanya saja, bentuk gangguan yang dialaminya tergantung pada usia janin ketika mengalami kekurangan gizi. Misalnya, pada minggu ke-12, sebagian besar otak mulai terbentuk sesuai dengan bagiannya masing-masing. Bila si kecil kekurangan iodium, misalnya, dia berisiko tinggi untuk mengalami gangguan pembentukan bagian otak tersebut.
Merangsang dengan Dongeng
* Menurut pakar psikologi anak Dr Seto Mulyadi, saat anak menginjak usia balita, mendongeng bisa menjadi salah satu sarana yang cukup ampuh untuk berkomunikasi dengan mereka.
Pada usia 26 minggu pun, janin sudah dapat membedakan sikap dan perasaan ibu. Selain itu, janin juga sudah bisa diajak berkomunikasi.
Caranya ?
Anda dapat mengajaknya berbicara. Jadi, bukan saja perkembangan kemampuan otak si kecil yang Anda rangsang, melainkan juga Anda mulai menjalin ikatan dengan si kecil.
Lingkungan yang baik dan nyaman penting bagi optimalnya pertumbuhan dan perkembangan otak janin. Makanya, gangguan psikis ketika hamil akan meningkatkan risiko janin untuk mengalami gangguan sistem kardiovaskuler (sistem peredaran darah), gangguan metabolisme, serta hambatan kognitif di kemudian hari.
Selain itu, stres yang berhubungan dengan proses afektif dan rangsangan yang berhubungan dengan bagian otak janin, diduga dapat memengaruhi perkembangan emosi anak di kemudian hari.
Bahkan, stres terus-menerus yang terjadi selama masa kehamilan akan menyebabkan berat badan lahir bayi yang rendah serta meningkatkan risiko si kecil mengalami gangguan emosi dan hambatan kognitif kelak.
Peningkatan hormon glukokortikoid, yakni hormon yang membantu metabolisme karbohidrat dalam tubuh yang timbul bila ibu stres diduga berpengaruh dalam pembentukan sistem saraf pusat janin. Yakni, meningkatkan risiko terjadinya disfungsi perkembangan sistem saraf pusat di kemudian hari. Stres juga diduga akan menghambat aliran oksigen ke janin. Padahal, kurangnya asupan oksigen dapat mengganggu perkembangan otak.
Untuk mengatasi stres, olahraga merupakan pilihan yang tepat, apalagi, bila Anda berolahraga, aliran darah ke seluruh tubuh dan juga aliran oksigen menjadi semakin lancar.
Di samping itu, penyebab stres juga perlu dilacak serta dicarikan jalan keluarnya.*
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment