Oleh: dr. Samsuridjal Djauzi
Kasus:
"SAYA bekerja di sebuah restoran di Jakarta. Minggu yang lalu karyawan tempat saya bekerja mendapat imunisasi tifus (demam tifoid). Menurut penjelasan petugas kesehatan yang melaksanakan imunisasi, vaksinasi tifoid bermanfaat untuk melindungi karyawan dari penyakit tifoid. Sedangkan karyawan yang dalam tubuhnya terdapat kuman tifoid dapat menularkan kepada pelanggan melalui penyediaan makanan di restoran.
Saya dapat memahami jika imunisasi dapat melindungi penyakit, tetapi saya merasa heran kenapa petugas restoran dapat menularkan tifoid kepada tamu di restoran. Menurut pendapat saya, penyakit tifoid masih sering terjadi di masyarakat, terutama anak sekolah. Bagaimana cara mencegah penularan penyakit ini karena jika sudah terjangkit biasanya harus masuk rumah sakit. Biaya perawatan di rumah sakit sekarang ini mahal. Bagaimana gejala penyakit ini dan apa beda demam tifoid dengan para tifus?"
(S di J)
Jawaban:
* Demam tifoid (di masyarakat dikenal dengan nama sakit tifus) disebabkan kuman Salmonella typhi. Kuman ini masuk ke tubuh kita melalui makanan dan minuman yang tercemar. Setelah kuman masuk tubuh biasanya akan timbul gejala penyakit (masa inkubasi) setelah 7-21 hari.
Gejala yang utama adalah demam. Pada tahap permulaan demam meningkat secara bertahap selama 5-7 hari, setelah itu demam menetap tinggi. Selain demam, dapat terjadi gejala saluran cerna berupa kelainan di lidah serta rasa tak nyaman di perut. Dapat juga terjadi sembelit atau diare. Pada penyakit yang berat dapat timbul gangguan kesadaran. Bahkan akibat infeksi yang berat dapat terjadi syok. Untunglah dengan kemajuan terapi menggunakan antibiotik biasanya demam tifoid dapat disembuhkan. Meski demikian, sebagian kecil penderita ada yang meninggal akibat penyulit perdarahan usus atau syok.
Jika penyakit dapat diatasi, maka penderita akan sembuh. Gejala menghilang dan penderita dapat produktif kembali. Sebagian kecil penderita yang sudah tidak merasakan gejala ini berada dalam keadaan tetap mempunyai kuman tifoid dalam tubuhnya (biasanya di kandung empedu) dan mengeluarkan kuman ini melalui tinja atau urine. Dengan demikian, dia menjadi sumber penularan bagi orang lain meskipun orang tersebut sudah tidak mengalami sakit. Orang tersebut disebut carrier.
Nah, seorang petugas restoran yang menyediakan makanan jika dia menjadi carrier kuman tifoid berpotensi menularkan kepada pelanggannya, biasanya melalui tangannya yang tercemar kuman. Karena itu, diharapkan petugas restoran bebas dari penyakit demam tifoid dengan cara hidup bersih dan jika perlu menjalani imunisasi. Sedangkan petugas yang sudah menjadi carrier harus diobati dengan baik dan dia baru boleh bertugas kembali jika sudah tak mengeluarkan kuman lagi dari tinja atau urinenya.
Kuman tifoid yang mungkin terdapat pada tinja, urine, atau muntahan penderita dapat menularkan kepada orang lain sekitar 10 persen secara langsung, tetapi sebenarnya lebih banyak penularan secara tidak langsung (90 persen), yaitu melalui makanan dan minuman.
Makanan yang sering menjadi sumber penularan adalah kerang, daging, dan susu. Makanan atau minuman yang dapat menjadi sumber penularan adalah makanan atau minuman yang tidak dimasak dengan baik. Namun, makanan yang sudah dimasak masih dapat tercemar jika kontak dengan tangan yang kotor atau air yang mengandung kuman. Karena itulah makanan jajanan harus dijaga kebersihannya agar tidak menjadi sumber penularan penyakit ini. Vaksinasi tifoid dengan cara suntikan dapat mengurangi risiko penularan dan memberi perlindungan pada tubuh sekitar tiga tahun.
Demam paratifoid disebabkan oleh Salmonella paratyphi. Gejalanya hampir sama dengan demam tifoid, tetapi penyakit ini masa inkubasinya lebih pendek (4-5 hari). Masa sakit juga lebih pendek, begitu pula penyulit lebih jarang dibandingkan dengan demam tifoid. Jadi, boleh dikatakan demam paratifoid lebih ringan dibandingkan dengan demam tifoid.
Demam tifoid kerap didapatkan di negara yang masyarakatnya belum mengamalkan hidup bersih. Di negara maju, dinas kesehatan berkewajiban memantau kebersihan makanan. Restoran yang tercemar kuman akan ditutup untuk melindungi masyarakat. Di negeri kita pengawasan ini belum berjalan baik sehingga setiap orang diharapkan dapat memilih makanan dan minuman yang bersih agar dia terlindung dari penularan penyakit. Semoga penjelasan ini bermanfaat bagi Anda.*
http://www2.kompas.com/kesehatan/news/0503/27/090454.htm
Tuesday, October 28, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment