Tak selamanya orang sakit perlu ke dokter atau minum obat. Mengetahui kapan harus ke dokter, kapan mesti minum obat, dan bagaimana cara mencegah penyakit, jauh lebih bijak. Setidaknya, bisa membantu menghemat pengeluaran biaya kesehatan.
Sama seperti meroketnya harga barang-barang, harga obat kini ikut-ikutan terbang ke langit. Maka ada baiknya bersikap kritis dan rasional dalam penggunaan obat. Hampir kebanyakan penyakit harian akan sembuh, walaupun tidak diobati. Tubuh kita punya mekanisme penyembuhan sendiri. Intervensi obat yang terlalu cepat atau berlebihan justru mengganggu mekanisme alamiah tubuh.
Obat warung misalnya, dibutuhkan jika seseorang sudah merasa terganggu oleh keluhannya. Peningnya bikin susah tidur, atau mualnya sampai enggak bisa makan. Sedangkan ke dokter, "Bila keluhan dan gejala yang sama tidak menghilang sampai beberapa hari. Atau, keluhan dan gejala yang sama berkembang progresif. Keluhan dan gejalanya semakin berat. Itu tanda penyakitnya bertambah parah dan perlu intervensi medis," tandas dr. Handrawan Nadesul.
Berikut "panduan" dokter yang tinggal di Pondok Indah itu, agar aktivitas berobat berjalan lebih efisien.
Tidak semua keluhan perlu obat
Obat malah dapat menjadi "racun" jika salah alamat dan dipakai secara berlebihan. Lebih-lebih jika pemakaiannya cukup sering. Efek sampingan obat sakit kepala terhadap ginjal dan hati, misalnya. Orang Amerika Serikat sudah jera, sebab obat sakit kepala (aspirin) dulu diperlakukan masyarakat mirip kacang goreng. Sakit kepala sedikit, langsung minum obat.
Pihak yang konservatif sekarang lebih takut menggunakan obat, sehingga tidak sebentar-sebentar menenggak pil atau kapsul. Karena seringan apa pun obat, pasti ada efek buruknya bagi tubuh.
Begitu juga mereka yang bergerak di bidang pengobatan alternatif, merasa prihatin atas pemakaian bahan kimia obat pada tubuh. Homeopathy, mixobition, prana, orthomoleculer medicine, akupresur, dan akupuntur ditujukan untuk menjauhkan tubuh dari imbas bahan kimiawi obat. Jika masih bisa sembuh atau meringankan sakit tanpa obat, mengapa harus minum obat?
Tidak semua obat menyembuhkan
Memang, tidak semua obat menyembuhkan penyakit. Jika pemakaian obat yang sama untuk waktu lama tidak mengubah penyakit, mungkin obatnya tidak tepat. Dalam keadaan begitu, sebaiknya konsumsi obat dihentikan. Prinsip dalam memakai obat adalah memperhitungkan unsur manfaat dan melupakan efek buruknya.
Jika masih punya manfaat, efek buruk obat boleh dilupakan. Namun, jika minum obat tidak memberi manfaat, dan orang cuma memikul efek buruknya, tentu harus dicegah. Misalnya, banyak pasien kanker tidak sudi diberi obat, sebab efek buruk obat kanker dianggap menyengsarakan, misalnya rambut rontok, kulit jelek, dan sel darah rusak.
Obat juga tidak bermanfaat kalau dokter salah mendiagnosis. Pemakaian obat untuk penyakit baru yang tanpa reaksi kesembuhan harus dicurigai. Dalam hal ini, selain salah mendiagnosis, bisa saja dokter salah memberi obat atau obatnya palsu. sebab, rata-rata obat sudah memberikan reaksi setelah beberapa kali diminum.
Jika tidak ada reaksi sama sekali, tanyakan pada dokternya. Melanjutkan obat tanpa khasiat, selain merugikan kocek, juga menimbulkan efek buruk. "Pasien akan tahu bahwa obat tidak bermanfaat, ya dari tidak sembuh-sembuhnya itu."
Tidak semua obat di resep harus diterima
Pasien yang terdidik biasanya tidak mau terlalu banyak minum obat. Mereka pun tak malu bertanya kepada dokter tentang manfaat obat yang diresepkan. Kalau tidak perlu, mereka tidak akan menebusnya. Pertanyaan yang diajukan bisa lebih spesifik, misalnya, "Ini obat simptomatik atau bukan?"
Biasanya, dokter akan tersinggung, meski mengajukan pertanyaan itu sebetulnya hak pasien. "Di luar negeri hal seperti itu lazim dilakukan pasien. Pasien bisa menolak resep obat bila dirasa kurang berguna atau memberi manfaat. Ingat sekali lagi, seringan apa pun obat membawa efek sampingan.
Dokter yang bijak biasanya selektif memberikan obat, dengan membuat resep yang rasional. Resep yang cerdas akan memberi sesedikit mungkin obat, tapi menyembuhkan. Bukan yang panjang daftar obatnya, walaupun juga sama-sama menyembuhkan.
Di masa krisis seperti sekarang, pasien dimungkinkan menebus resep setengah dari yang seharusnya. Dengan catatan, asal bukan antibiotik. Biasanya, dalam salinan resep dokter, obat antibiotik hanya satu. Hanya obat antibiotik yang tidak boleh ditebus setengah, karena bila yang diminum cuma setengah resep, pengobatan menjadi tidak tuntas, bahkan menimbulkan efek kekebalan. Satu resep antibiotik harus dihabiskan
Mutu tidak tergantung harga
Jelas, bukan harga tinggi yang menyebabkan obat lebih bermutu. Semua obat generik yang meniru obat aslinya, jika dicampur dengan standar pembuatan obat yang baik (CPOB), pasti sama manjurnya. Pengalaman menunjukkan, banyak kasus kesembuhan pasien justru ditentukan oleh faktor psikis.
Selama ini, banyak orang menganggap, kurang tokcer kalau tidak minum obat mahal. Dengan kata lain, si pasien dari awal sudah tidak percaya pada obat yang berharga murah. Sugesti begitu bisa berpengaruh terhadap proses kesembuhan, sehingga akhirnya tidak sembuh betulan. Efek plasebo begini banyak sekali menghantui orang kota.
Imbasnya, dokter yang tidak mau dianggap kurang bonafid, jadi terbiasa dan selalu memberi resep mahal, walaupun ia tahu ada pilihan obat yang lebih murah. Ironisnya, obat yang sama tapi lebih murah ternyata menyembuhkan lebih banyak pasien di pedesaan. Soalnya, mereka sejak awal percaya dengan khasiat obat yang diminum.
Obat timbulkan penyakit baru
Orang sekarang doyan sekali minum berbagai jenis obat sekaligus. Minum obat seolah jadi kebanggaan. Padahal di negara-negara maju, orang mampu sekali pun semakin membatasi pemakaian obat. Berderetnya obat dalam resep dokter, bisa saja justru mencerminkan keragu-raguan dokter, meski kadang dapat "menenteramkan" hati pasien.
Banyak ahli obat mencemaskan kecenderungan dokter sekarang, yang menulis resep lebih banyak. Resep yang disebut bersifat polypharmacy itu menjadikan perut pasien mirip apotek. Hal itu sering tidak rasional. Pemakaian obat secara berlebihan yang tidak jelas manfaat dan tujuannya akan merugikan pasien. Kasus kesalahan dokter dalam memberikan obat (iatrogenic) kerap menjadi pembicaraan dalam masyarakat modern.
Alhasil, kini semakin banyak kasus orang sakit akibat kebanyakan minum obat yang tidak perlu.
Pasien punya hak bertanya
Kesalahan selama ini, pasien tidak memanfaatkan haknya untuk bertanya pada dokter yang memeriksa. Jangankan bertanya obat yang diberikan, soal apa penyakitnya pun sering pasien tidak tahu. Pasien cenderung menerima saja alias manut pada apa yang dikatakan dan diberikan dokter.
Di lain pihak kondisi di negara berkembang umumnya memang menunjukkan kurangnya waktu bagi dokter untuk menjawab pertanyaan pasien. Yang penting sembuh. Namun mestinya, dalam hal obat, pasien perlu bertanya tentang obat apa yang diberikan, bagaimana cara kerjanya, apa efek buruknya, dan seterusnya. Perlu diingat, pasien yang banyak bertanya akan menguntungkan dirinya sendiri dalam banyak hal.
Apotek tidak berhak menukar obat
Acap kali terjadi, apotek menukar obat yang tidak sesuai dengan yang dituliskan dokter, tanpa sepengetahuan si pembuat resep. Motifnya lebih karena alasan ekonomis. Mungkin obat yang diminta dokter tidak ada. Nah, agar pasien tidak mencari ke apotek lain, mereka menukarnya dengan obat berjenis sama dari pabrik berbeda.
Bisa juga karena kenakalan apotek, yang sengaja menukar dengan obat - yang walaupun sama - tapi harganya lebih tinggi. Tentu saja yang rugi kocek pasien, karena khasiat kesembuhannya sebenarnya tidak berbeda.
Tidak semua obat harus dihabiskan
Pasien sering bingung, apakah obat yang diberikan dokter perlu dihabiskan. Kurangnya informasi soal ini bisa merugikan pasien, karena pasien akhirnya memakai obat secara salah. Sebab, tidak semua obat yang diberikan dokter perlu dihabiskan. Obat jenis simptomatik untuk meredakan keluhan dan gejala misalnya, pasti tidak perlu dihabiskan. Hanya diminum kalau keluhan dan gejalanya masih ada atau muncul lagi.
Obat yang masih tersisa sebaiknya disimpan baik-baik. Jika tahu indikasinya, obat yang disimpan baik itu masih bisa dipakai kembali, ketika datang keluhan yang sama.
Tidak setiap sakit harus ke dokter
Demi penghematan dan efisiensi, sungguh arif jika kita tidak selalu pergi ke dokter setiap kali sakit.
Untuk itu perlu pengetahuan medis dari bacaan dan pergaulan. Jika batuk-pilek saja, bisa minum obat sendiri. Begitu juga jika sekadar mulas, pening, pusing, atau mual. Tubuh sudah punya mekanisme penyembuhan sendiri. ]
Dengan kata lain, selama bisa tanpa obat, biarkan tubuh menyembuhkan sendiri. Pergi ke dokter sebaiknya jika keluhan dan gejala yang sama tidak menghilang sampai beberapa hari. Atau, bila keluhan dan gejala yang sama berkembang progresif. Batuk- pilek misalnya, kalau lebih dari seminggu perlu diwaspadai. Siapa tahu sudah radang paru-paru, sinusitis, atau congekan.
Mengobati sendiri memang tidak selamanya aman. Namun, dengan pengetahuan dan wawasan medis yang semakin banyak, di saat harga obat dan ongkos berobat menjadi semakin mahal, upaya pengobatan sendiri dapat menjadi pilihan untuk efisiensi.
Cegah Sebelum Sakit
Banyak hal yang dapat dilakukan agar tubuh tidak mudah sakit.
Pertama, kondisi tubuh jangan sampai diperlemah. Dalam kondisi seperti sekarang, stres bisa merusak badan juga. Misalnya, orang yang tidak doyan makan, menurunnya mutu menu, istirahat terganggu karena semakin susah tidur, pekerjaan bertambah berat karena harus cari tambahan kiri-kanan.
Semua itu memperburuk pertahanan tubuh. Dalam kondisi pertahanan tubuh yang buruk, penyakit jadi mudah menyerang. Selain infeksi, maag, darah tinggi, herpes, sering flu, atau kena virus lain yang semuanya lazim menyerang orang dengan kondisi tubuh yang dibiarkan menurun.
Kedua, tetaplah hidup teratur. Dalam musim penghujan, perlu membuat tubuh lebih hangat. Pilih menu yang hangat, seperti soto, sup, dan makanan lain yang berprotein tinggi. Ketika tubuh tidak enak, stop kerja berat, beristirahat lebih banyak, dan banyak makan yang mengandung protein tinggi (daging, ikan, susu, telur). Isyarat itu jangan dilawan. Jika merasa tubuh lesu dan mengantuk, bawalah tidur dan jangan melakukan aktivitas apa pun.
Banyak penyakit menyerang orang yang tubuhnya lemah. Semua penyakit virus, termasuk demam berdarah, cacar air, herpes zoster, dan herpes simplek mulut, flu, dan banyak penyakit perut disebabkan oleh virus dari jajanan dan lingkungan kotor. "Semua ancaman di sekitar kita tidak mungkin diredam. Yang bisa dilakukan hanya membuat tubuh lebih kuat dengan menu bergizi, cukup istirahat dan olahraga untuk melawan semua ancaman itu," tutup Handrawan Nadesul. *
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment