Tuesday, October 28, 2008

Agar Dokter Rasional Menulis Resep!

Membunuh lalat dengan pistol, termasuk pilihan cara membunuh yang tidak rasional. Yang sama bisa terjadi dalam resep dokter. Pihak pasien bisa membuat dokter tidak rasional dalam menulis resep. Apa kiat pasien agar resep dokter tergolong resep yang rasional?

Ms. Ari memilih pindah dokter karena dengan resep dokter yang sebelumnya, konon lama sembuhnya. “Sekarang saya puas dengan dokter yang sudah tiga tahun ini jadi langganan setiap kali sakit. Dia lebih bertangan dingin, lho! Obatnya baru sekali minum saja, langsung hilang keluhannya, dan rasanya sudah sehat beneran katanya kepada teman jalan paginya.

Betulkah sikap pasien Ms. Ari yang seperti itu? Mari kita lihat.

Dokter - Pasien

* Hilangnya keluhan belum berarti sudah sembuh penyakitnya. Dan tujuan dokter memberikan terapi memang agar penyakit berhasil disembuhkan, bukan semata-mata meniadakan keluhannya.

Berhasil menyembuhkan itulah yang merupakan bagian dan seni dokter mengobati (art and science). Lebih separuh keberhasilan seorang dokter dalam memberikan terapi terletak pada bagaimana dokter dengan tepat mengorek keluhan pasien (anamnesis). Dari anamnesis yang berkualitas, lebih separuh kemungkinan diagnosis sudah di tangan.

Untuk memetik anamnesis yang bagus, komunikasi dokter-pasien juga harus bagus. Pasien perlu membantu dokter untuk mampu menangkap secara bulat apa yang pasien rasa dan alami.
Berbeda dengan mesin mobil atau pesawat TV, mesin tubuh pasien tak bisa seenaknya dibuka dan dikorek-korek untuk melihat lokasi kerusakan, dan bagian mana yang rusak segampang membuka kap mesin mobil atau melepaskan baut TV. Dokter hanya bisa mengandalkan telinga mendengarkan keluhan pasien, dan melihat tanda serta gejala penyakitnya saja.

Hanya pada penyakit kulit, kecacatan, atau kelainan fisik akibat gangguan otak, dokter bisa mengandalkan penglihatannya untuk mendiagnosis. Untuk penyakit dalam, penyakit kehamilan, penyakit bedah, dan kelainan organ dalaman lain, dokter perlu mengerahkan seluruh panca indra dan ilmu yang dimilikinya, dan itu pun belum tentu berhasil mendiagnosisnya. Dari pemeriksaan kasar bagian luar seperti itu hanya menjadikan pikiran dokter dibuat terarah kepada beberapa kemungkinan penyakit saja.

Untuk lebih memastikan apa yang sudah dipikirkan ihwal dugaan akan beberapa kemungkinan penyakit, dokter melakukan pemeriksaan fisik yang lebih terfokus. Hanya memeriksa yang bersesuaian dengan penyakit yang sedang dipikirkannya. Jadi memang tak ada alasan setiap pasien perlu membuka seluruh bajunya bila dokter hanya berpikir ada yang tak beres di
dengkul pasien.

Pemeriksaan Tambahan

* Ada penyakit yang langsung bisa didiagnosis di kamar praktik, ada juga yang tidak. Dan bila setelah berkutat sampai tahapan pemeriksaan fisik dokter belum juga bisa menyimpulkan apa penyakitnya, dokter akan meminta pasien menempuh pemeriksaan tambahan sesuai dengan kebutuhan.

Untuk itu mungkin hanya perlu pemeriksaan laboratorium, atau rontgen, USG, MRI, rekam jantung, rekam otak, rekam otot, atau yang lainnya, sesuai dengan kebutuhan untuk menunjang dugaan penyakit apa yang dokter pikirkan. Bila dokter mencurigai tifus, misalnya, dokter akan memeriksa laboratorium darah. Curiga kelainan jantung, perlu ECG. Curiga maag, perlu periksa kuman dan darah. Memeriksa apa saja yang tidak jelas juntrungannya, tidaklah rasional dalam mendiagnosis.

Jadi, tidak serta-merta semua pasien diminta dokter harus melakukan pemeriksaan macam-macam kalau di kamar praktik diagnosis sudah bisa ditegakkan. Pemeriksaan tambahan selain untuk menunjang diagnosis, sering juga dimanfaatkan untuk konfirmasi penyakit, atau untuk keperluan memastikan kesembuhan penyakit.

Prosedur pemeriksaan yang benar pun belum tentu akan membuahkan diagnosis yang tidak meleset. Faktor-faktor seperti cara pendekatan dokter, isi kepala dokter, dan keterampilan melakukan pemeriksaan pasien, menentukan jitu tidaknya dokter mendiagnosis. Faktor pengalaman (jam terbang) dokter, tidak boleh pula dilupakan.

Di mata dokter yang sudah banyak jam terbangnya, kasus tifus mungkin sudah bisa dipastikan di kamar praktik. Sebaliknya, di depan dokter yang belum berpengalaman, ditambah ilmunya yang mungkin minim, dan nalar medisnya cetek, kasus patek atau malaria, yang buat dokter jelas-jelas tergolong spesifik, bisa saja luput terdiagnosis.

Jadi bertangan dingin tidaknya seorang dokter ditentukan oleh keterampilannya menetapkan penyakit dengan sekujur panca indra dan ilmu yang dimiliknya, ditambah perigel tidaknya dokter melakukan pendekatan terhadap pasien. Jangan dilupakan bagaimana dokter menghadirkan citra profesinya di depan pasien.

Resep Ideal

* Dokter bisa genit pula dalam menuliskan resep. Adakalanya resep yang murah gagal menyembuhkan bila pasien skeptis terhadap obat berharga rendah. Sebaliknya, pasien yang lugu dan sembuh dengan obat murah asal tepat pilihannya bisa menimbulkan penyakit baru kalau harga resep yang dokter berikan lebih besar dari isi koceknya.

Waktu sekolah, dokter dididik bagaimana menulis resep yang ideal. Artinya tepat pilihannya, tak berlebihan jenisnya, persis dosisnya, dan pertimbangan harga yang paling rendah. Kalau bisa hanya satu jenis obat, dan ada pilihan yang lebih murah, mengapa harus memberi lebih dari satu jenis, dan memilih yang harganya lebih tinggi pula.

Dalam hal ini pasien perlu kritis dalam menerima resep dokter. Pasien perlu bertanya untuk setiap obat yang dokter resepkan, untuk apa, berapa lama, dan apa saja efek sampingnya, apa yang akan terjadi setelah obat selesai dikonsumsi, kapan obat dihentikan, dan bolehkah resep ditebus ulang, serta banyak lagi yang perlu ditanyakan.

Dokter tidak patut menolak untuk menjawab setiap pertanyaan pasien, termasuk pertanyaan ihwal resep yang ia tulis. Hak pasien untuk tahu segala yang dokter berikan dan akan lakukan, bahkan Sebelum semua itu berlangsung (informed consent). Dan hak pasien pula, bila setelah mendengar penjelasan dokter, untuk menolaknya.

Dengan cara demikian, pasien tidak menerima saja, mungkin sesuatu yang tidak perlu, atau mungkin berlebihan, dan menyimpan bahaya. Dengan cara begitu pula dokter lebih terkendali dalam menuliskan resep, atau melakukan tindakan medisnya. @

1 comment:

Mugi haryanti said...

assalamu'alaikum...salam kenal.wah, blognya bagus, infonya juga bermanfaat. kunjungi saya jg di mizanonline.blogspot.com
wassalam...