Tuesday, October 28, 2008

Kisah Nyeri Kepala Istri Eko...

*) Aneurisma "Pembunuh" Nomor Dua di AS

EKO, karyawan Bank Central Asia cabang Thamrin itu kaget ketika istrinya, Isra Triasih, tiba-tiba terjatuh dari tempat tidurnya sambil memegangi kepalanya. Rasa nyeri yang dirasakan pada kepalanya bukan hanya membuat Isra kesakitan, tetapi kemudian membuatnya tidak sadarkan diri.

Dalam keadaan panik, Eko segera membawa istrinya ke sebuah rumah sakit di kawasan Bekasi. Segera kemudian perempuan berusia 33 tahun itu menjalani pemeriksaan MRI.

"Hasil pemeriksaan MRI menunjukkan adanya semacam tumor di dalam kepala istri saya. Namun dokter tidak terlalu yakin karena gelembung yang terlihat dari hasil MRI tidak menunjukkan seperti tumor, tetapi seperti balon karena transparan," ujar Eko saat ditemui di samping istrinya di RS Siloam Gleneagles, Karawaci, Minggu (25/7) lalu.

Atas saran dari dokter, Eko diminta untuk membawa istrinya ke sebuah rumah sakit pusat di Jakarta. Di rumah sakit itu, dokter pun ternyata mendiagnosa yang sama bahwa ada semacam tumor di kepala Isra. Hanya saja, dokter belum berani mengambil keputusan tindakan apa yang sebaiknya dilakukan terhadap sang pasien.

"Saya sempat bingung ketika dokter menyarankan untuk membawa pulang istri saya terlebih dahulu. Persoalannya, saya takut kalau istri saya mengalami lagi pusing yang tidak tertahankan. Kalau itu terjadi, saya melihat betapa kesakitannya dia dan kalau sudah tidak tahan dia kemudian pingsan," ujar Eko menceritakan keadaan istrinya.

Di tengah kebingungannya, Eko mengaku bertemu dengan seorang ibu yang sedang mengantarkan anaknya untuk menjalani fisioterapi di rumah sakit itu. Sang ibu menanyakan penyakit yang diderita istri Eko.

"Ibu itu mengatakan bahwa sakit istri saya hampir mirip gejalanya dengan sakit anaknya. Ibu itu menyarankan untuk berkonsultasi dengan Dokter Eka Wahjoepramono di RS Gleneagles. Bersyukurlah saya bisa menemui Dokter Eka dan bahkan kemudian diambil tindakan sehingga istri saya terkurangi penderitaannya," ujar Eko.

DOKTER Eka mengatakan bahwa apa yang dialami Ny Isra adalah aneurisma raksasa (giant aneurisma). Pembengkakan pembuluh darah lebih dari 2,5 sentimeter di dalam otak itu membuat seseorang sering mengalami sakit kepala yang sangat berat.

"Ketika terjadi perembesan darah di sekitar aneurisma itu maka kesakitannya sangat luar biasa. Itulah yang membuat Ny Isra begitu menderita dan bahkan sampai tidak sadarkan diri," ujar dr Eka.

Aneurisma disebabkan oleh kelemahan lapisan otot pada pembuluh darah otak. Pada manusia, aliran darah melalui arteri, tekanannya sangatlah besar. Tekanan itulah yang membuat lapisan otot pembuluh darah yang lemah itu kemudian melar dan ketika itu terus-menerus terjadi membuat pembuluh darah itu menggelembung seperti balon.

Menurut dr Eka, hanya sekitar satu persen saja aneurisma disebabkan oleh faktor keturunan. Selebihnya, aneurisma bisa disebabkan oleh hipertensi, infeksi pada pembuluh darah otak, atau jamur.

"Di Amerika Serikat, jumlah penderita aneurisma mencapai lima orang per 100.000 penduduk. Di sana, aneurisma menjadi penyebab kematian mendadak kedua setelah penyakit jantung," kata dr Eka.

Dalam kasus Ny Isra, maka pilihan tinggal dua yakni membiarkan aneurisma itu dengan konsekuensi sang pasien terus-menerus mengalami kesakitan dan satu saat bisa pecah yang bisa sangat fatal atau melakukan operasi untuk mengangkat aneurisma itu dari dalam otak. Ternyata pihak keluarga dan sang pasien memilih untuk dioperasi dan diangkat.

Operasi itu sendiri bukan tanpa risiko. Dari 101 operasi yang dilakukan di RS Gleneagles, menurut dr Eka, enam berakhir dengan kematian. Hal itu terutama terjadi ketika operasi dilakukan pada saat yang sudah terlambat yakni ketika aneurisma sudah pecah sebelum operasi dimulai.

"Dalam kasus Ny Isra, operasi yang dilakukan hari Jumat (23/7) berjalan lancar. Operasi yang dilakukan bersama Profesor Yoshio Suzuki, dokter tamu dari Universitas Nagoya, Jepang, berlangsung sekitar delapan jam. Dua hari lagi Ny Isra diperkirakan sudah bisa meninggalkan rumah sakit," ujar dr Eka ketika dihubungi hari Kamis (29/7). (tom)

No comments: